<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1673721413768826721</id><updated>2011-04-21T14:23:10.993-07:00</updated><category term='mass media'/><category term='social'/><category term='law'/><title type='text'>all bout communication</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://andimuis.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andimuis.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>andimuis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06105756226945864269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1673721413768826721.post-5526964304179044650</id><published>2008-04-06T21:10:00.000-07:00</published><updated>2008-04-06T21:14:35.304-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mass media'/><title type='text'>Pers Nasional Vs Presiden Megawati</title><content type='html'>A.Muis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="center" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Menyambut HPN 09/02-2003 (bagian I)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="western" style="line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kecaman Presiden Megawati terhadap media massa khususnya pers (media cetak) tidak hanya terjadi sekali dua kali. Sebelum peristiwa Selasa, 21 Januari 2003 yang heboh itu, Presiden juga sudah pernah menuding pers nasional "kebablasan", membesar-besarkan (blow up) kejadian dan melakukan pelintiran fakta. Misalnya, ketika Presiden Megawati menerima utusan pengurus-pengurus Ikatan Pemuda NU tanggal 08 Juli 2002 di Istana Negara. Presiden menuding pers nasional sudah "kebablasan". Pihaknya merasa, banyak statementnya yang ditulis atau disampaikan oleh pers kepad a masyarakat tidak seperti apa yang ia ucapkan. Menurutnya, pers begitu gampang memutarbalikkan kejadian. Tetapi pihaknya memilih diam saja dalam menghadapi pers seperti itu, katanya kepada pengurus IPNU. Namun ia minta agar dirinya dihargai. Mestinya, menurut Presiden, ke depan pers bisa menyampaikan apa-apa yang bisa mencerdaskan bangsa. Pihaknya bisa menerima kritik apapaun asal disampaikan dengan santun dan sistematis. Sebagai aktivis, Mega  tidak merasa risih kalau dikritik, asal caranya benar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="western" style="line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt;      &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam suatu kesempatan, tanggal 21 Januari 2003 yang lalu, Presiden Megawati kembali mengecam kinerja pers nasional yang ia nilai "nyomplang" (tidak berimbang), "njlimet "dan "ruwet", tidak adil. Menurut Presiden pers cenderung selalu menyudutkannya. Reaksi keras yang diperolehnya bukan cuma dari kalangan wartawean dan para pengamat pers, tetapi juga dari Ketua MPR, Amin Rais. Menurut Ketua MPR, kecaman Mega itu mestinya atas nama pribadi saja, bukan dalam kapasitas Kepala Negara atau Presiden. Sebab kalau ia melontarkan kecaman terhadap pers sebagai presiden, maka bisa berakibat kembalinya politik otoritarian di bidang pers seperti halnya pada zaman Orde Baru yang mengharuskan pers seragam  dengan pendapat atau keinginan pemerintah. Reaksi Ketua MPR itu pada sisi lain dapat bermakna "kampanye" pemilihan presiden dan pemilu 2004.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="western" style="line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt;      &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Banyak reaksi berisi "penjelasan" kepada Presiden Megawati, bahwa pers melaksanakan fungsi kontrol sosial dan kritik terhadap pemerintah. Pasti Presiden Megawati mengetahui pula fungsi kontrol dan kritik yang dimiliki pers. Ihwal yang ia persoalkan rupanya adalah cara pers melaksanakan fungsi tersebut yang ia nilai "tidak adil", "tidak berimbang", "kebablasan", dan melakukan "pelintiran" fakta atau kata-kata.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="western" style="line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 class="western" lang="id-ID"&gt;Distorsi Komunikasi&lt;/h1&gt;  &lt;p class="western" lang="id-ID"&gt;     Seorang anggota DPR-RI juga pernah mengatakan kepada saya bahwa pernyataan-pernyataannya pun sering dipelintir oleh pers. KH Abdurrahman “Gus Dur” Wahid ketika menjadi presiden juga sering menuduh pers melakukan &lt;i&gt;character assasination&lt;/i&gt; dengan memutarbalikkan fakta. Tetapi Gus Dur melangkah lebih dekat pada pers dengan menjadikan pertemuan konsultasi dengan para pemred media masa di Jln. Utan Kayu 68 H sebelum ia dilengserkan oleh MPR. Gus Dur juga merencanakan pembentukan sebuah badan konsultasi permanen yang beranggotakan wakil-wakil media massa dan pemerintah untuk mengatasi distorsi komunikasi antara pers dengan pemerintah. Padahal sudah ada beberapa jubir yang bertugas menjelaskan kebijaksanaan-kebijaksanaannya kepada masyarakat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="western" style="line-height: 150%;" align="justify"&gt;     &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Salah satu kelemahan utama Presiden Megawati adalah sikapnya yang “anti” jubir, padahal fungsi jubir kepresidenan itu amat vital. Paling sedikit untuk memperkecil miskomunikasi atau distorsi komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat dan dengan DPR/ MPR.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="western" style="line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="western" style="line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;Anti “&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;fair comment and criticism&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;” &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="western" style="line-height: 150%;" align="justify"&gt;     &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Teori jurnalisme Barat memperkenalkan arti komentar dan penilaian (kritik) yag jujur. Semua orang, organisasi atau institusi yang bekerja untuk kepentingan umum harus tunduk pada penilaian masyarakat. Jadi, lembaga pers dan penyiaran juga harus tunduk pada kritik yang fair dari masyarakat. Media massa adalah sebagai subjek dan objek kritik. Sama dengan lembaga legislatif dan lembaga-lembaga publik lainnya termasuk ornop-ornop adalah subyek dan obyek kritik yang jujur (fair). Media massa tak cuma memiliki fungsi dan kontrol sosial, tetapi juga wajib menerima kritik atau penilaian dari masyarakat karena media massa bekerja untuk kepentingan umum. Hal itu jelas kelihatan dalam ketentuan Hak Jawab dan Hak Koreksi dari masyarakat yang wajib dilaksanakan oleh media massa baik menurut UU Pers, UU Penyiaran, maupun menurut KEJ.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="western" style="line-height: 150%;" align="justify"&gt;     &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Sementara seorang presiden adalah ibarat puncak sebuah pohon yang tinggi. Otomatis mendapat lebih banyak terpaan angin dibandingkan dengan pohon-pohon yang lebih rendah. Maka, sah-sah saja kalau seorang Presiden atau Perdana Menteri (PM) mendapat banyak kritik dari rakyat dengan berbagai macam cara. Kritik, penilaian atau kontrol sosial lewat media massa adalah yang paling komprehensip karena media massa atau publisistik media (pers) memiliki ciri publisitas (terbuka untuk umum) dan universalitas (berisi banyak macam hal untuk banyak orang). Bahasa Belandanya: veelzeidig van inhoud, atau banyak macam isinya. Lagian, media massa di negara-negara demokrasi memiliki kedudukan sebagai kekuasaan keempat (the fourth estate) atau pilar demokrasi yang keempat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="western" style="line-height: 150%;" align="justify"&gt;     &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Ihwal yang penting, kritik itu harus fair. Bagi media massa yang dimaksud “fair criticism” ukurannya tidak melakukan pelintiran kata-kata, pemutar-balikan fakta dan tidak menyimpang dari rumus 5 W + H, tidak langgar norma-norma KEJ.(060203)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1673721413768826721-5526964304179044650?l=andimuis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andimuis.blogspot.com/feeds/5526964304179044650/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1673721413768826721&amp;postID=5526964304179044650' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/5526964304179044650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/5526964304179044650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andimuis.blogspot.com/2008/04/pers-nasional-vs-presiden-megawati.html' title='Pers Nasional Vs Presiden Megawati'/><author><name>andimuis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06105756226945864269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1673721413768826721.post-3879382088207910456</id><published>2008-04-06T21:09:00.000-07:00</published><updated>2008-04-06T21:10:12.173-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='social'/><title type='text'>Hambali yang Misterius</title><content type='html'>A.Muis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Orang yang bernama Hambali banyak sekali. Tetapi, Hambali yang satu ini bukan sembarang Hambali. Menurut berita media massa ia dituduh telah melakukan serangkaian pemboman di Indonesia dan di negara-negara lain. Dengan kata lain, Hambali adalah salah seorang tertuduh teroris Internasional. Tentu saja, Hambali tak mungkin mau mengakui istilah itu karena pasti ia punya misi menurut keyakinan pribadinya. Artinya ia berada pada dimensi kehidupan lainnya. Jadi perbuatan melanggar hukum (kejahatan) yang dituduhkan kepadanya mungkin diluar kerangka referensinya. Kira-kira sama dengan pengertian (kerangka referensi) George W.Bush, Tony Blair dan John Howard yang membantai banyak rakyat Irak yang tak berdosa. Mereka berdalih untuk menghancurkan sejata kimia Irak dan menyingkirkan resim Saddam Husein. Secara sepihak para teroris kaliber dunia itu menuduh resim itu melakukan kejahatan internasional, mengancam perdamaian dunia (maling teriak maling).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;     &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sekarang masalah penangkapan Hambali yang konon memakai paspor Spanyol itu. Ia dtangkap oleh pemerintah thailand lalu diserahkan kepada Amerika. Pemerintah Indonesia terpaksa berkorban perasaan karena Thailand seakan-akan tak menghormati hak-hak Indonesia. Para pejabat terpaksa menyatakan "tak perlu dipermasalahkan". Dipermasalahkan pun tak akan ada hasilnya. Bahkan Amerika bisa memarahi pemerintah Indonesia. Jadi pemerintah Indonesia lebih baik memohon kebaikan hati AS untuk diberikan akses kepada Hambali guna minta keterangan atau memeriksa Hambali. Sebenarnya hukum pidana Indonesia berlaku bagi WNI yang melakukan kejahatan di LN (asas nasionalitas). Ketidaksediaan Thailand menyerahkan Hambali ke Indonesia agaknya bukan saja karena tak ada perjanjian ekstradisi antara Indonesia dengan Thailand, tetapi agaknya Thailand meragukan kesanggupan pemerintah kota dalam memberantas terorisme di Indonesia. Padahal sudah ada UU Anti Terorisme dan sudah ada pelaku-pelaku teror bom dihukum berat. Negara-negara lain agaknya selalu menganggap Indonesia "sarang teroris". Oleh media massa luar negeri terutama di Amerika, Inggris dan Australia, terorisme selalu dikaitkan dengan Jamaah Islamiah dan al-Qaidah yang mereka sinyalir banyak di Indonesia. Umat Islam di Indonesia yang jumlahnya berkisar 90% dianggap sebagai lahan subur bagi organisasi-organisasi teroris. Pada pokoknya umat Islam identik dengan terorisme dalam pandangan Amerika, Inggris, Australia, dan sekutu mereka, kecuali umat Islam Amerika dan umat islam di negara-negara barat lainnya dan di sebagian negara-negara Asia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;     &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kenyataannya memang demikian. Kebanyakan pelaku bom bunuh diri atau tanpa bunuh diri adalah orang-orang islam. Tetapi, sekali lagi, istilah teror bom atau terorisme tidak ada dalam pengertian atau dalam kerangka referensi mereka. Sebab jika hal itu ada di dalam kerangka pikir mereka tentu mereka tak mau melakukan hal itu. Para pejuang Palestina menyebutnya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;u&gt;jihad&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;. Begitu pula sebutan para pejuang pembebasan Irak dan Afganistan dari penjajahan AS dan sekutu-sekutunya. Jika keyakinan atau pengertian seperti itu juga melekat pada diri kelompok-kelompok radikal Islam di Indonesia maka bisa dikhawatirkan, teror bom tak mudah diberantas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Disamping itu kian banyak terjadi kemaksiatan dan perilaku sosial yang melanggar norma-norma agama. Antara lain yang berbau pornografi, misalnya tari-tari yang erotis yang dilakukan penari-penari perempuan dan disiarkan tiap hari/malam oleh TV. Hal itu bisa menyulut perilaku radikal pada kelompok-kelompok anti pornografi dan kemaksiatan. Karena itu ada baiknya para pengelola TV dan media massa lainnya berhati-hati, yakni melakukan sensor mandiri terhadap acara-acara hiburan yang menurut ukuran agama dan ps.282,532,533 KUH-Pidana bernuansa pornografi. Sayang sekali UU. Penyiaran tidak menyengsor siaran hiburan yang berbau porno. Sedang pedoman Perilaku Penyiaran belum disusun oleh KPI.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;     &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sementara itu, Wapres Hamzah Has dalam ceramahnya dan khutbahnya di Masjid Istiqomah di Ceger Jakarta Timur Jum'at 4 Juli 2003, menyesalkan para pengelola TV banyak menyiarkan pornografi. Senada dengan pernyataan Meneg Kominfo, Syamsul Mu'arif, bahwa salah satu penyakit media massa adalah pornografi.(051103)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1673721413768826721-3879382088207910456?l=andimuis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andimuis.blogspot.com/feeds/3879382088207910456/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1673721413768826721&amp;postID=3879382088207910456' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/3879382088207910456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/3879382088207910456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andimuis.blogspot.com/2008/04/hambali-yang-misterius.html' title='Hambali yang Misterius'/><author><name>andimuis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06105756226945864269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1673721413768826721.post-5612262515992213054</id><published>2008-04-06T21:07:00.000-07:00</published><updated>2008-04-06T21:09:14.216-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mass media'/><title type='text'>Membangkitkan Kembali Semangat Kemerdekaan Pers</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0.17in; line-height: 150%;" align="justify" lang="en-US"&gt; (Menyongsong Seminar dan Pertemuan Mahasiswa Ilmu Komunikasi se-Indonesia di Jakarta tgl 14 -19 Desember 2003, dengan Tema &lt;i&gt;&lt;b&gt;“Realitas Globalisasi Media Massa: Dalam Fungsinya Untuk Demokratisasi dan Pemberdayaan Publik”&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;. Tulisan ini mencoba mengkaitkan tema tersebut dengan kasus Tempo yang tragis dan kontroversial itu.)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0.17in; line-height: 150%;" align="justify" lang="en-US"&gt;A.Muis&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0.17in; line-height: 150%;" align="justify" lang="en-US"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Kasus majalah Tempo sangat penting artinya sebagai sebuah evaluasi tentang keadaan pers nasional dewasa ini terutama soal kemerdekaannya/kebebasannya. Banyak pihak menilai, kinerja pengadilan dalam kasus Tempo yang sangat kontroversial ini merosot dan berakibat pemasungan baru terhadap kebebasan pers (Kompas, 1/10-03, Terbit 1/10-03, RRI-Pro II 3/10-03, The Jakarta Post 24/10-03).&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Implikasinya adalah perlunya pemahaman kembali tentang hakekat kemerdekaan pers, kaitannya dengan demokrasi dan pemberdayaan publik. Adalah John Hulteng dan Roy Nelson (1971) yang menyatakan, di negara-negara demokrasi, rakyat hanya bisa memiliki potensi apabila ada akses yang luas bagi mereka kepada arus berita pers yang jujur dan tidak disensor tentang kejadian-kejadian di dalam negeri dan di seluruh dunia. Salah satu urgensi keberadaan media massa adalah untuk mempertahankan kebebasan rakyat dalam melaksanakan demokrasi (&lt;i&gt;democratic-freedoms&lt;/i&gt;). Di negara demokrasi, demikian gagasan Nelson dan Hulteng, pers dan demokrasi atau potensi publik adalah ibarat dua sisi sebuah mata uang.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Juga Jeremy Bentham, ahli filsafat hukum abad 18, menyatakan, tanpa publisitas pers tentang seluruh kegiatan pemerintah di sebuah negara demokrasi maka keburukan akan menjadi permanen; tetapi jika ada pengawasan publisitas-pers maka pikiran jahat tak akan terjadi terus menerus di pemerintahan. Tak mungkin ada kinerja pemerintah yang baik tanpa bantuan publisitas pers. Karena rakyat atau publik tak dapat menilai jalannya pemerintahan tanpa informasi yang lengkap dari pers.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;b&gt;Pers Tanpa Pemerintah?&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Pemahaman yang sama mendorong Thomas Jefferson membuat komentar yang sering dikutip tentang peranan pers di negara demokrasi: “Were it left to me to decide whether we should a government without newspaper or newspapers without a government, I should not hesitate a moment to refer the letter” (dalam buku The Four Estate, 1971). Pers (dan media massa lainnya tentu saja) oleh seorang pendekar hukum Belanda, Kirk Donker Curtius (1883) dijuluki “Ratu Bumi” (&lt;i&gt;de koningin der aarde&lt;/i&gt;) karena pers lebih mampu menerangi akal, pikiran, dan hati manusia daripada pemerintah. Istilah populer saat ini adalah “mencerdaskan bangsa”.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Juga pada abad yang lalu, seorang pendekar hukum dan demokrasi dari Phildelphia, AS, David Hemilton, mengungkapkan, bahwa perkara delik pers yang melibatkan elite kekuasaan atau elite sosial pasti terlibat pula didalamnya soal kebebasan pers, soal demokrasi dan hak-hak publik untuk memperoleh informasi (&lt;i&gt;public’s right to know&lt;/i&gt;). Dalam tiap delik pers terlibat pula fungsi kontrol, kritik, koreksi yang dimiliki pers. Khusus delik pers yang melibatkan elite sosial dan elite politik tentu terlibat pula fungsi &lt;i&gt;watchdog&lt;/i&gt; yang dimilik pers terhadap jalannya pemerintahan dan pelaksanaan demokrasi.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Jika pengadilan, demikian gagasan Hemilton, mengabaikan faktor-faktor eksistensi pers tersebut, berarti pengadilan pun mengabaikan demokrasi dan hak publik untuk memperoleh informasi terutama dari media massa.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;b&gt;Pengadilan versus UU Pers&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Justru itulah yang terjadi dengan kasus majalah Tempo yang sarat keanehan itu. Pengadilan Negeri Jaksel mengabaikan semua faktor eksistensi pers tersebut yang justru semuanya ada di dalam UU Pers. Berarti pengadilan mengabaikan kekuasaan Undang-Undang yang khusus mengatur pers (Kompas,1/10-03, Terbit 1/10-03,RRI Pro-II 3/10-03). Penyimpangan pengadilan dari UU Pers terjadi baik dalam kasus kekerasan terhadap wartawan Tempo maupun dalam kasus delik persnya (tuduhan “pencemaran nama baik” pihak penggugat. Dalam kasus pertama PN Jaksel membebaskan satu tersangka dan menjatuhkan hukuman percobaan bagi tersangka lainnya. Hal itu bisa bermakna pembenaran atas pelanggaran pasal 4 ayat 3 UU Pers yang dapat dikaitkan dengan tindakan para mantan tersangka/terpidana ringan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Dalam kasus kedua PN Jaksel meletakkan sita jaminan atas harta kekayaan (rumah) Goenawan Mohammad, wartawan  senior dan pendiri majalah Tempo (dan hampir juga terseret kantor redaksi Tempo). Timbullah masalah kepatuhan/kelayakan penetapan itu dan lagi-lagi muncul konotasi bahwa pengadilan seakan-akan bertindak sebagai lembaga pemasungan pers (imprematur) karena pasal 4 ayat 3 UU Pers terlanggar.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Dalam kasus pertama (kekerasan terhadap wartawan Tempo) mestinya pengadilan tak cuma menggunakan pasal-pasal penganiayaan dalam KUH-Pidana, tetapi juga dipakai pasal 4 ayat 3 UU Pers (asas konkursus realis). Sedangkan untuk kasus kedua (pencemaran) penetapan sita jaminan perlu pertimbangan mengenai keberadaan pasal 4 ayat 3, karena dengan penetapan &lt;i&gt;conservation beslag&lt;/i&gt; itu aktivitas Tempo bisa terpasung. Jika Tempo terpasung berarti kebebasan pers nasional terpasung.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1673721413768826721-5612262515992213054?l=andimuis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andimuis.blogspot.com/feeds/5612262515992213054/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1673721413768826721&amp;postID=5612262515992213054' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/5612262515992213054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/5612262515992213054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andimuis.blogspot.com/2008/04/membangkitkan-kembali-semangat.html' title='Membangkitkan Kembali Semangat Kemerdekaan Pers'/><author><name>andimuis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06105756226945864269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1673721413768826721.post-5939467787037830801</id><published>2008-04-06T21:05:00.000-07:00</published><updated>2008-04-06T21:06:53.346-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mass media'/><title type='text'>TEORI   PELURU   KOMUNIKASI  DI TANGAN  MASYARAKAT</title><content type='html'>A.Muis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt;Merebaknya  istilah “kebablasan  pers” dan “kebablasan” komunikasi sosial   belakangan ini   sangat mencerminkan   kemerosotan  norma-norma etika  dan  hukum  di bidang   tersebut.   Istilah yang amburadul itu  memang sering  tercermin  dalam cara-cara penyajian berita  yang  kata-katanya dipelintir  (&lt;i&gt;spinning of words&lt;/i&gt;), cara pengambilan angel  peristiwa  yang diliput  (&lt;i&gt;newsevent&lt;/i&gt;) dan bahasa (&lt;i&gt;dictions&lt;/i&gt;) yang  sensasional, yang menyesatkan  khalayak  (&lt;i&gt;audience&lt;/i&gt;) .Institusi-institusi komunikasi sosial pun  terkoptasi  euforia kebebasan yang berbuntut  “ kebablasan.”. Hal itu mudah  dilihat  dalam berbagai aksi demonstrasi  belakangan ini.  Misalnya, para demonstran memberi kumis dan menginjak-injak gambar kepala presiden dan wakil  presiden. . Cara berdemokrasi dan melaksanakan kebebasan komunikasi  seperti itu oleh  DR.Barrington Moore Jr. disebut   demokrasi dan kebebasan &lt;i&gt;predator&lt;/i&gt;.   Dari sudut pandang  kajian  komunikasi (&lt;i&gt;communication study&lt;/i&gt;) hal itu berarti, bahwa  penggunaan teori peluru komunikasi (&lt;i&gt;bullet theory of communivation&lt;/i&gt;)   yang biasanya digunakan oleh penguasa  negara atau pemerintah  kini telah beralih atau melebar ke dalam tangan masyarakat. Seolah – olah model  komunikasi &lt;i&gt;bottom up&lt;/i&gt; digunakan oleh  ORNOP – ORNOP  untuk mengalahkan model  komunikasi &lt;i&gt;top down  atau model S-R &lt;/i&gt;yang, misalnya , berupa kebijakan   pemerintah di berbagai&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;b&gt;bidang . Sama halnya&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;  Ornop Penyiaran  yang &lt;u&gt;anti sensor&lt;/u&gt; ,&lt;u&gt;anti&lt;/u&gt; &lt;u&gt;sanksi administratip dan anti kewenangan pemerintah dalam hal perizinan  penyiaran&lt;/u&gt;  Sikap keras anti sensor  terhadap  tayangan media audio-visual sinematografis yang notabene melanggar nilai-nilai agama  dan norma-norma budaya komunikasi mayoritas bangsa ini  juga mencerminkan penggunaan teori atau &lt;u&gt;model peluru komunikasi &lt;/u&gt; , model komunikasi satu arah  dan model komunikasi &lt;u&gt;kibernetik &lt;/u&gt; oleh sebagian LSM Penyiaran.  Paradigma komunikasi &lt;i&gt;top down &lt;/i&gt; dianggap ada di dalam UU Media Massa khususnya Penyiaran&lt;i&gt;.   &lt;/i&gt;&lt;u&gt;Sikap anti  terhadap kewenangan pemerintah dalam hal pemberian izin frekuensi  bagi penyiaran  dan sanksi administratip jelas bertentangan  dengan sistem hukum Tata Usaha Negara yang berlaku di Indonesia.   &lt;/u&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt; Hal itu tentu dapat  mendorong  pemerintah atau penguasa di Indonesia  dan di negara -  negara lain di Asean lainnya   untuk memberlakukan kebijakan komunikasi  (communication policy ) yang ketat  atau represip termasuk tindakan-tindakan  kekerasan yang bersifat individual  terhadap   penyelenggara penyiaran (&lt;i&gt;broadcaster&lt;/i&gt;) dan  terhadap wartawan (A.Muis, Kompas, 26 Juli 2002). Tak mustahil pula aparat keamanan  melakukan  tindakan   “kebablasan”  terhadap “kebablasan” media massa . Maka tak heranlah jika sering terjadi tindakan kekerasan  oleh  polisi dan tentara   terhadap wartawan .Tindakan represip yang sulit dicegah itu   justeru sudah lebih dari tindakan sensor  dan sanksi administratip  atau sudah menyerupai sensor dalam arti luas (imprematur).  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 200%;" align="justify"&gt;     Di samping itu KUH-Pidana Indonesia dan undang-undang lain masih        menyimpan sejumlah warisan teori media otoriter yng sama dengan tindakan imprematur dan sanksi politik yang berat. Antara lain pasal 154 – 155 , 207 – 208 ,  Pasal XIV-XV UU No.1 – 1946  dan UU No.23 – 1959 .  Benarlah kata   Kafel dan   Siebert  bahwa  teori media otoriter sudah terlanjur membudaya di seluruh  dunia dan sewaktu – waktu akan kambuh di  negara-negara yang  justeru  menganut teori  media libertarian.(031002)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1673721413768826721-5939467787037830801?l=andimuis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andimuis.blogspot.com/feeds/5939467787037830801/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1673721413768826721&amp;postID=5939467787037830801' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/5939467787037830801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/5939467787037830801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andimuis.blogspot.com/2008/04/teori-peluru-komunikasi-di-tangan.html' title='TEORI   PELURU   KOMUNIKASI  DI TANGAN  MASYARAKAT'/><author><name>andimuis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06105756226945864269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1673721413768826721.post-4243680272577897183</id><published>2008-04-06T21:04:00.000-07:00</published><updated>2008-04-06T21:05:25.373-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='law'/><title type='text'>KEGAGALAN DUHAM</title><content type='html'>A.Muis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;p style="line-height: 150%;" align="justify"&gt;DUHAM adalah akronim Deklarasi Universal HAM yang dicetuskan di Paris oleh Majelis Umum PBB. 10 Desember 1948. Ada 30 pasalnya. Semua isinya berkisar pada isu kebebasan pribadi, kemerdekaan bernegara, hak untuk hidup, perlindungan dari pengangguran (pasal 23), demokrasi, kebebasan bergerak, berkomunikasi, berdiam di dalam batas-batas setiap negara, menyampaikan dan menerima informasi tanpa hambatan, tanpa memandang batas-batas wilayah negara (&lt;i&gt;regardless of frontiers&lt;/i&gt;) melalui segala macam media yang tersedia, memiliki pendapat dan memberikan pendapat (pasal 13 dan 19). Tetapi kebebasan tiap orang tidak boleh merugikan kebebasan orang lain (pasal 29 ayat 2). Setiap orang juga berhak atas perlindungan dari pengangguran (pasal 23). Juga tak seorangpun boleh dirampas hartanya dengan semena-mena (pasal 17).&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;" align="justify"&gt;     Nyatanya PBB yang mencetuskan DUHAM justru sering melanggarnya sendiri atas kehendak Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya yang dikuasai hobby Yahudi. Pada level internasional tak ada demokrasi karena hanya 5 negara mempunyai hak veto di PBB. AS dan Inggris, misalnya dengan leluasa merampas harta negara-negara lain atas dukungan PBB. Seperti, misalnya, melucuti dan memusnahkan persenjataan Irak. Hanya AS dan sekutu-sekutunya boleh memiliki senjata nuklir. Negara-negara lain tidak boleh memiliki harta berupa senjata seperti itu (melanggar pasal 17 DUHAM).&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;" align="justify"&gt;     Tetapi AS cs kelihatannya takut pada Korea Utara sehingga tidak  berani mengancam negara komunis itu untuk diserang jika tidak mau melucuti senjata pemusnah massalnya. AS cs hanya berani terhadap Irak dan negara-negara Islam. Juga Indonesia saat ini praktis telah dijajah oleh AS dan sekutu-sekutunya. Paling tidak, semua keinginan AS cs harus dipatuhi oleh Indonesia. Misalnya saja pemerintah Indoensia selalu menyatakan Indonesia bukan sarang teroris. Tetapi Perpu anti terorisme cenderung membantah pernyataan pemerintah itu dan membenarkan tudingan AS cs.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;     Sementara hasil yang dicapai oleh polisi dalam mengungkap aktifitas jaringan teroris di Indonesia menunjukkan, bahwa memang ada kelompok atau organisasi teroris di Indonesia yang identitasnya adalah kelompok Islam tertentu. Soal mengapa mereka melakukan perbuatan yang tak sesuai dengan ajaran Islam (cinta perdamaian) adalah persoalan lain.&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;" align="justify"&gt;     Kembali pada DUHAM. Kegagalannya adalah inkonsistensi antara kebebasan informasi internasional dengan demokrasi pada level internasional. Arus informasi internasional berjalan sesuai dengan maksud pasal 19 DUHAM yang dikukuhkan oleh era Dunia Maya (Cyberworld). Ketimpangan arus informasi internasional telah diperlunak oleh era dunia maya sehingga opini publik di banyak negara (world public opinion) memihak Palestina dan Irak. Tetapi sistem politik antarbangsa dikuasai AS cs, yang juga menguasai PBB. Jadi PBB adalah alat kekuasaan AS cs. Sedang AS cs dikuasai Yahudi. Maka zionis Israel-lah yang menguasai tatanan politik dan tatanan ekonomi internasional. Jadi keberadaan pasal 19 DUHAM tentang freedom of information (FOI) tidak mampu mengubah tatanan politik dan ekonomi dunia (new world politics and economics order). DUHAM cuma berhasil “mengukuhkan” tatanan informasi dan komunikasi dunia yang dibaharui oleh negara-negara Selatan (new world information and communication –NWICO). Misalnya The Muslim News –Exchange dan The Al-Qaeda Global Television Networks.&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;" align="justify"&gt;     Bagaimana di Indonesia? Payah ! Lembaga-lembaga HAM memang berjuang mati-matian menegakkan HAM. Tetapi seakan-akan terbentur pada tembok raksasa yang amat kuat. Hal itu jelas kelihatan pada kasus DOM di Aceh, kasus Tanjung Priok. Kasus Trisakti, Tragedi Semanggi I dan II, kasus Timika, kasus pembunuhan Ketua Dewan Papua, kasus-kasus tahanan politik dan kasus-kasus penghilangan/ penculikan orang terutama pada zaman Orde Baru dan kasus Marsinah. KONTRAS adalah lembaga HAM yang sering mengungkap kejahatan kemanusiaan di Indonesia seperti itu. Tetapi hampir selalu gagal membawanya ke pengadilan HAM, karena, itu tadi, selalu terbentur tembok besar yang sangat kuat. Lagi pula supremasi hukum seakan-akan sudah menjadi “alat” pelanggaran HAM. (021003)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1673721413768826721-4243680272577897183?l=andimuis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andimuis.blogspot.com/feeds/4243680272577897183/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1673721413768826721&amp;postID=4243680272577897183' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/4243680272577897183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/4243680272577897183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andimuis.blogspot.com/2008/04/kegagalan-duham.html' title='KEGAGALAN DUHAM'/><author><name>andimuis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06105756226945864269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1673721413768826721.post-4726077536431920670</id><published>2008-04-06T20:55:00.000-07:00</published><updated>2008-04-06T21:04:22.935-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='social'/><title type='text'>NEGARA DAN RAKYAT INI SUDAH BABAK BELUR</title><content type='html'>A.Muis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Sejarah   menyaksikan,  negara  bersama   rakyat   ini    sudah babak belur oleh  berbagai pertikaian  dan korupsi  di kalangan para pemimpin  yang haus kekuasaan dan  harta.  Setelah Belanda hengkang dari Indonesia  ternyata    penindasan  oleh manusia atas manusia  dan pelanggaran HAM  tidak lenyap,  bahkan meningkat  secara kualitatif dan kuantitatif.  Negara semakin tak mampu mengayomi dan mensejahterakan rakyatnya, supremasi hukum kian tak mampu mengayomi  rakyat kecil dan keadilan juga kian menjauhi mereka. Di pihak lain   para penguasa dan para elite politik kian tak terjangkau oleh kekuasaan hukum. Negara telah lama menjadi alat pemerasan  atas rakyat oleh mereka yang sedang berkuasa . Rakyat kian lama kian menjadi kurus  secara  psikis dan moral karena   terus   menerus  tertekan  oleh  kesulitan dan kesumpekan hidup yang tak berujung.  Masa depan   kian tak menentu dan  cakrawala di sekitar kian gelap.   Semua institusi negara dan institusi sosial   juga kian lemah  karena dijadikan  obyek  eksploitasi  ekonomi dan politik  untuk melanggengkan kekuasaan mereka yang duduk di puncak dan yang dekat pada piramida sosial.  Pada semua fase  perkembangan sosial itu selalu terjadi eksploitasi institusi publik sehingga selalu terjadi krisis institusional. Hanya caranya berbeda  sesuai dengan sistem politik yang berlaku. Di masa  Orde Lama dan Orde Baru eksploitasi institusi-institusi publik dilakukan menurut cara-cara kekuasaan totaliter.  Di masa Orde Lama demokrasi diberi nama demokrasi terpimpin . Pelaksanaannya  sama dengan sistem politik totaliter. Misalnya   Ketua MPR/DPR  dan Ketua MA adalah  Menteri sehingga berada di bawah kekuasaan presiden atau kepala eksekutif. Berlaku  tahanan politik . Banyak   terjadi sensor dan pembreidelan pers  dan  berlaku tahanan politik. Di zaman Orde Baru   demokrasi disebut Demokrasi Pancasila yang pelaksanaannya sama juga dengan sistem totaliter.  Tahanan politik dilanjutkan. Lembaga-lembaga  media massa dikekang secara represif  dengan undang-undang  dan kebijakan media (media law and media policy) yang  meniru teori media otoriter  atau teori media pembangunan. Banyak terjadi pembreidelan dengan nama pembatalan SIUPP. Pemilihan umum hanya boleh diikuti tiga partai,  DPR, MPR  dan kekuasaan Kehakiman  dikuasai eksekutif  secara de facto. Praktek korupsi merajalela. Dan pelanggaran HAM cenderung menjadi  “kesenangan”  para penguasa.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;       Di era reformasi ini pengrusakan institusi-institusi publik  bahkan cenderung lebih parah lagi  baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Caranya kian canggih.  Demokrasi terpimpin dan demokrasi Pancasila tidak ada lagi. . Tidak ada lagi tahanan politik,  Demokrasi berubah sifat menjadi  demokrasi predator.  Salah satu penyebabnya  adalah  euforia kebebasan yang sangat tajam  (kebablasan) di segala bidang dan di semua strata sosial.  Praktek korupsi memperoleh  ramifikasi  yang lebih melengkapi dan lebih mengukuhkan  keberadaannya, , yakni praktek KKN.    &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;                                                   &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;             PENGADILAN  HAM   DIHADANG   KOMPROMI   POLITIK.   &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Lembaga – lembaga demokrasi seperti legislatif dan partai politik  dijadikan alat komunikasi politik  untuk   mengintervensi  penegakan hukum  atau untuk mempolisasi hukum. Misalnya skandal Bank Bali  (Baligate) , Buloggate I dan Buloggate II.   Tetapi yang paling tajam adalah Buloggate II  . Terkenal istilah “Skenario Muladi” atau ”Skenario Majestik” dan “Skenario Mahakam” untuk menyelamatkan Akbar Tanjung dari tanggung jawab hukum dan politik,  atau untuk “menegakkan benang  basah”.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;           Penegakan HAM dan   supremasi   hukum   seakan-akan  membentur  tembok besar yang sangat kukuh.  Penegakan HAM dan hukum kebanyakan hanya berwujud wacana, diskusi atau talk show di TV. Semua orang masih ingat  pidato kenegaraan Presiden Megawati tanggal 17 Agustus 2001 yang berisi tekad untuk mengadili para pelanggar HAM dan para pelaku KKN. Tetapi   pelaksanaan isi pidato itu    bukan lagi hanya jalan di tempat, tetapi seakan-akan  terhenti sama-sekali.   Upaya penegakan HAM lewat pengadilan HAM sepertinya   terjebak dalam kompromi politik, permintaan maaf dan  rekonsiliasi nasional.   Seakan-akan ada hambatan  “hutang budi”.  Misalnya saja, Tragedi Semanggi I dan II, kasus Trisakti dan  kasus 27 Juli 1996 yang langsung menimpa Presiden Megawati sendiri.   Berita-berita media massa  selama ini mengungkapkan bahwa  yang terlibat adalah aparat keamana dari TNI dan kepolisian. Di situlah  letak masalahnya.  Sidang Istimewa MPR tahun silam  sukses melengserkan Presiden Abdurrahman Weahid karena dukungan TNI dan Kepolisan.  Boleh dikatakan, TNI dan polisi sangat berjasa menyediakan “kuda troya”  bagi Megawati untuk lolos masuk benteng istana.  Dengan demikian  masuk akal  jika ”tekad”  Presiden Megawati untuk menegakkan HAM tanpa pilih bulu itu  mengalami kemacetan yang nyaris total  karena terhambat oleh tenggang rasa . Maka tak pelak lagi rasa keadilan rakyat terpaksa selalu  dikorbankan.  Lain halnya soal  pelanggaran HAM berat di  Negara Timor Lorosae. Pengadilan HAM berjalan lancar karena ada tekanan internasional terhadap  Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1673721413768826721-4726077536431920670?l=andimuis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andimuis.blogspot.com/feeds/4726077536431920670/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1673721413768826721&amp;postID=4726077536431920670' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/4726077536431920670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/4726077536431920670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andimuis.blogspot.com/2008/04/negara-dan-rakyat-ini-sudah-babak-belur.html' title='NEGARA DAN RAKYAT INI SUDAH BABAK BELUR'/><author><name>andimuis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06105756226945864269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1673721413768826721.post-7827842693175769111</id><published>2008-04-04T00:46:00.001-07:00</published><updated>2008-04-04T00:46:56.500-07:00</updated><title type='text'>go green!!!</title><content type='html'>&lt;div&gt;save the earth!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://widgets.ivillage.com/o/46cc7d615e2b9a19/47f5dcee5e8028b4/47bd390827eeb03c/61efbda4/widget.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1673721413768826721-7827842693175769111?l=andimuis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andimuis.blogspot.com/feeds/7827842693175769111/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1673721413768826721&amp;postID=7827842693175769111' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/7827842693175769111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/7827842693175769111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andimuis.blogspot.com/2008/04/go-green.html' title='go green!!!'/><author><name>andimuis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06105756226945864269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1673721413768826721.post-3912957956685287996</id><published>2008-04-01T21:10:00.000-07:00</published><updated>2008-04-01T21:18:17.709-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='social'/><title type='text'>MAKNA “PEKIK MERDEKA” SUDAH BERUBAH</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;A.Muis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt; Pekik merdeka yang bergema pada tahun 1945 di seluruh Indonesia sekarang sudah berubah, mengikuti sekian banyak arti kata – kata “perjuangan” yang juga sudah berubah.&lt;br /&gt;Perubahan – perubahan tersebut sangat terkait dengan perubahan sosial yang terus berlangsung dengan cepat. Banyak sekali nilai – nilai tradisional yang dituangkan dalam kata – kata atau istilah – istilah kian lama kian menjadi usang atau menjadi sebuah masa silam yang tidak akan kembali lagi. Dengan kata lain, istilah – istilahnya atau kata – katanya tetap dipakai dalam berbagai event misalnya 17 Agustusan. Hari ulangtahun kemerdekaan RI yang ke – 59 dan sebelumnya maupun ke depan kata – kata merdeka atau pekik merdeka tentu masih tetap berkumandang dimana – mana. Tapi lebih bersifat ceremonial. Sedang essensinya telah dikabulkan oleh makna baru yang diseret oleh perubahan sosial yang sedang berlangsung dengan sangat cepat.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt; Sekarang ini pengertian merdeka tidak lagi sekadar dari penjajahan politik asing dalam bentuk fisik, tetapi telah diganti dengan penjajahan budaya dan ekonomi, dan kemiskinan yang makin meluas dibarengi kesenjangan sosial ekonomi yang juga makin melebar di kalangan bangsa ini sendiri. Dengan demikian makna kata merdeka atau pekik merdeka lebih bermakna merdeka dari penjajahan ekonomi, penjajahan budaya, seperti kata Chin Chuan Lee. Penjajahan budaya menurut pakar tersebut dialami oleh negara – negara yang sedang berkembang tidak terkecuali Indonesia melalui peranan media massa yang sedang mengalami globalisasi itu sendiri sebetulnya dikuasai kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang berpusat di negara – negara Barat.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt; Dengan demikian, menurut pengertian yang diuraikan di atas itu “pekik merdeka” maknanya bagi rakyat biasa ( arus bawah ) adalah merdeka dari penjajahan budaya, penjajahan ekonomi, penjajahan media massa yang dilakukan oleh negara – negara maju, Juga berarti merdeka dari kesenjangan sosial yang makin hebat, merdeka dari kemiskinan dan kemelaratan, merdeka dari kekuasaan yang sewenang – wenang ( pelanggaran HAM ) dan merdeka dari rasa takut dan rasa tidak aman.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;           Dahulu mendiang Bung Karno menggunakan kata – kata kemerdekaan dari kesulitan hidup atau kemiskinan ( &lt;i&gt;freedom from want ).&lt;/i&gt; Bung Karno juga mengatakan bahwa rakyat Indonesia menghendaki kemerdekaan pribadi atau kemerdekaan individu dari berbagai penderitaan ( &lt;i&gt;freedom to be free )&lt;/i&gt;. Sayang sekali, semboyan – semboyan yang bernilai tinggi atau bernilai kerakyatan tidak ada yang terlaksana di zaman orde lama itu. Ketiadaan kemerdekaan rakyat kecil dari kesulitan hidup itu berlanjut hingga zaman orde baru, bahkan cenderung meningkat di era reformasi ini. Putri sulung Bung Karno sendiri yang kini menjadi Presiden RI mewarisi sang Ayah, Megawati Soekarnoputri memang mengakui bahwa sekitar 95% rakyat Indonesia adalah rakyat kecil yang miskin dan melarat.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;Di samping itu, telah terjadi gerakan – gerakan separatis dan sejenisnya sedang bermunculan di berbagai daerah baik secara terbuka ( GAM, RMS, dan GPM ) maupun secara terselubung seperti gagasan – gagasan federalisme beberapa waktu yang lalu. Lanjut cerita, perjuangan kemerdekaan yang paling berat saat ini bagi rakyat kecil ( wong cilik menurut terminology Presiden Megawati Soekarnoputri ) adalah kemerdekaan diri dari dampak korupsi yang makin lama makin menyusahkan rakyat kecil. Kepedulian sosial di kalangan penguasa keliatannya masih diatas kertas atau masih merupakan alat kampanye Pemilu 2004 baik pemilu legislatif maupun pilpres.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt; Ada pula cerita mengenai sulitnya akses masyarakat kecil kepada pekerjaan yang layak misalnya TKI di luar negeri ; banyak yang mengalami pengorbanan dalam segala bentuknya karena cara penanganannya baik oleh Pemerintah Indonesia maupun oleh pemerintah asing tempat TKI bekerja tidak dilakukan sebagaimana mestinya. Cerita lain, tingkat pengangguran yang makin tinggi juga makin menakutkan masyarakat karena hal itu berarti gangguan keamanan akan terus meningkat, timbul generasi baru di dunia kejahatan dan jenisnya pun makin bermacam – macam. Cerita yang menarik adalah orang – orang yang mau masuk bekerja sebagai aparat penegak hokum atau bidang – bidang lain atau pegawai negeri swasta di berbagai bidang konon harus menyuap oknum – oknum pejabat tertentu yang berwewenag menerima petugas baru atau pegawai baru hingga mencapai ratusan juta rupiah.&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt; Tentu saja hal itu, sangat menghambat kesempatan kerja sehingga populasi pengangguran terus meningkat sekaligus meningkatkan jumlah, jenis, dan kualitas kejahatan. Lebih lanjut cerita, peringatan HUT Kemerdekaan bangsa ini semakin bersifat ceremonial belaka, hidmatnya ( maknanya ) kian merosot karena upaya mengisi kemerdekaan seperti yang dimaksud oleh para pendahulu kita ( founding fathers ) tidak atau belum mampu kita penuhi sebagaimana mestinya bahkan cenderung makin jauh dari tujuan para pahlawan kemerdekaan kita. Masalah besar ini, tentunya tidak bisa dianggap remeh oleh Pemerintah baru hasil pilpres 2004 karena kalau Pemerintah baru tidak bisa berbuat banyak bisa diperkirakan akan berakibat munculnya gerakan oposisi dan gerakan ekstra parlementer yang sangat berbahaya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1673721413768826721-3912957956685287996?l=andimuis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andimuis.blogspot.com/feeds/3912957956685287996/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1673721413768826721&amp;postID=3912957956685287996' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/3912957956685287996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/3912957956685287996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andimuis.blogspot.com/2008/04/makna-pekik-merdeka-sudah-berubah.html' title='MAKNA “PEKIK MERDEKA” SUDAH BERUBAH'/><author><name>andimuis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06105756226945864269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1673721413768826721.post-1394333583263929096</id><published>2008-04-01T21:04:00.000-07:00</published><updated>2008-04-01T21:09:32.992-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='law'/><title type='text'>MASYARAKAT BUTUH  LEMBAGA   POLICE  WATCH</title><content type='html'>A.Muis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;p style="margin-left: 0.01in; text-indent: -0.01in; font-style: normal; line-height: 150%;" align="left"&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Di dalam RUU Kepolisian tidak ada pasal mengenai lembaga police watch sebagai salah satu bentuk partisipasi masyarakat dalam pemeliharaan ketertiban dan penegakan supremasi hukum,. Padahal fungsi lembaga itu sangat penting . Paling sedikit sama pentingnya dengan lembaga – lembaga pemantau lainnya seperti Government Watch, Parliament Watch, ICW, Media Watch dan Judicial Watch.Tetapi masyarakat dapat saja membentuk lembaga Police Watch tanpa diatur di dalam UU Kepolisian seperti halnya lembaga-lembaga pemantau publik lainnya yang diutarakan di atas itu. Keberadaan lembaga itu banyak manfaatnya. Antara lain untuk mengatasi kesenjangan komunikasi atau miskomunikasi yang sering terjadi antara polisi dan masyarakat dan untuk meningkatkan kualitas kinerja polisi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;h2 style="font-style: normal; line-height: 150%; font-weight: normal;" align="left"&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Di samping itu paradigma baru polisi memang sangat relevan dengan fungsi lembaga pemantau polisi (police watch). Paradigma baru polisi mengacu pada perubahan sikap polisi dalam melaksanakan tugas penegakan hukum dan pemeliharaan ketertiban masyarakat. Yakni polisi harus bersikap demokratis, tidak militeristik dan keberadaannya dapat diterima oleh masyarakat. Implikasinya adalah, polisi harus terbuka kepada masyarakat (transparan), jujur, ramah (friendly), tidak represif terhadap masyarakat , bersikap persuasif dan edukatif. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/h2&gt;  &lt;h3 style="font-style: normal; line-height: 150%; font-weight: normal;" align="left"&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kapolda Sulsel Irjen Polisi Drs.Firman Gani memiliki obsesi untuk memulai paradigma baru poliisi itu di Sulawwsi Selatan dengan harapan bisa dicontoh oleh Polda – Polda lain. Kapolda Sulsel, Irjen Polisi Drs.Firman Gani ingin menjadikan paradigma baru polisi itu sebagai pilot project di wilayahnya. Memang Sulsel adalah pintu gerbang lalu lintas internasional di Indonesia Timur dan pusat pengembangan pendidiksn tinggi, sosial budaya, ekonomi, politik dan hukum. Sulsel juga termasuk wilayah yang sedang mengalami perkembangan kriminalitas yang pesat dan canggih. Bahkan Sulsel tergolong peringkat pertama atau paling maju dalam hal praktek KKN . Seirama dengan itu pers setempat hampir tiap hari memberitakan adanya tindakan kekerasan yang dilakukan oleh polisi terhadap warga masyarakat seperti pemerasan, penganiayaan. pengeroyokan dan perampasan kemerdekaan warga secara sewenag – wenang. Dengan kata lain citra (image) masyarakat tentang kinerja polisi di Sulsel masih berada di bawah standar. Padahal masih banyak polisi di wilayah itu yang kinerjanya baik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;h2 style="font-style: normal; line-height: 150%; font-weight: normal;" align="left"&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;PARADIGMA BARU POLISI. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/h2&gt;  &lt;h2 style="font-style: normal; line-height: 150%; font-weight: normal;" align="left"&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Masalahnya, mengapa para polisi yang kinerjanya baik hampir tak pernah mendapat pujian dari masyarakat? Mungkin masyarakat berpendapat bahwa sudah seharusnyalah polisi memiliki kinerja yang baik sehingga tak perlu dipuji , tetapi patut dihargai. Namun kinerja buruk beberapa polisi akan merusak citra semua polisi di wilayahnya. Setitik saja nila di dalam sebuah belanga yang berisi susu akan merusak seluruh susu itu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/h2&gt;  &lt;h2 style="font-style: normal; line-height: 150%; font-weight: normal;" align="left"&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Untuk melaksanakan paradigma baru polisi tentu masing – masing Polda harus berupaya keras untuk meniadakan atau paling sedikit mengurangi realitas di lapangan yang menunjukkan masih buruknya kinerja polisi. Masih banyak polisi tak sanggup bersikap transparan , demokratis dan berhenti melanggar hukum dalam menegakkan hukum (anomia) . &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/h2&gt;  &lt;h2 style="font-style: normal; line-height: 150%; font-weight: normal;" align="left"&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sering masyarakat sendiri harus mengambil initiatif untuk melawan tindakan kekerasan oknum – oknum polisi . Caranya dua macam, yakni melakukan amuk massa dan membakar kantor polisi (Polsek atau Polres) yang dinilai membiarkan anggota-anggotanya melakukan kezaliman terhadap masyarakat. Atau melakukan unjuk rasa ke DPR-D II setempat untuk meminta penggantian Kapolres atau Kapolsek dan anak buah mereka. Namun cara itu pun kurang efektif karena sering terjadi pameo atau pepatah “ monyet pergi kera datang”. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/h2&gt;  &lt;h2 style="font-style: normal; line-height: 150%; font-weight: normal;" align="left"&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seminar di Mapolda Sulsel tanggal 12 Nopember 2001 yang meminta saya menjadi narasumber menghasilkan kesepakatan untuk membenahi i kinerja polisi di wilayah itu agar bisa tercipta kebersamaan antara polisi dan masyarakat guna mewujudkan keamanan bersama. Paradigma baru polisi harus diterapkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="font-style: normal; line-height: 150%; font-weight: normal;" align="left"&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;MASIH SULIT DITERAPKAN.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;h2 style="font-style: normal; line-height: 150%; font-weight: normal;" align="left"&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Namun realitas di lapangan tetap saja tidak mendukung pelaksanaan paradigma baru polisi tersebut. Hasil seminar itu masih sebatas wacana . Belum usai gema seminar Polda Sulsel tersebut sudah banyak lagi berita-berita pers setempat tentang terjadinya berbagai tindak kekerasan, pemerasan dan bentuk kezaliman lainnya yang dilakukan oleh polisi terhadap warga masyarakat di sejumlah kota dan desa di Sulsel. Padahal seminar tersebut diikuti 250 Kapolres, Kapolwil , Kapolsek dan pejabat – pejabat POLRI dari seluruh Sulsel. &lt;span style="font-style: normal;"&gt;Diberitakan secara lengkap oleh Pedoman Rakyat ( 18-19 Nopember 2001) adalah salah satu contoh tentang sikap tertutup polisi. Polisi di Polsekta Mariso minta uang Rp.200.000 kepada orang tua korban untuk memproses kasus pidana itu. Kapolsek Mariso AKP Heri Sasengka membantah. Katanya, uang itu untuk biaya visum . Namun ibu korban, Daeng Kanang menuding Heri Sasengka bohong. Soal biaya visum adalah urusan keluarega korban dengan pihak rumah sakit , tangkis Daeng Kanang. Lagi pula keempat polisi yang minta uang itu tidak memakai dalih “biaya visum”. Uang itu menurut Daeng Kanang memang untuk peribadi para polisi itu . Contoh lain, seorang pembantu rumah tangga bernama Nina ditahan oleh polisi dengan dalih membawa senjata tajam . Padahal cuma pisau dfapur. Ia dimintai uang Rp.500.000 untuk pembebasannya (Pedoman Rakyat, 21 Oktober 2001). Contoh lain lagi, yang menunjukkan sikap polisi yang tertutup dan tidak demokratis adalah pengusiran wartawan Kamis malam tanggal 15 Nopember 2001 di Poltabes Makassar . Para wartawan itu bertugas meliput pemeriksaan Bupati Gowa Syaharul Yasin Limpo SH, Msi yang dituduh mengkonsumsi narkoba . Polisi memakai dalih tidak ada izin dari Dispen Polda Sulsel (SCTV, Liputan 6 Petang, Jumat 17 Nopember 2001). Jika berita itu benar maka berarti Polda Sulsel memberlakukan izin bagi media massa . Hal itu bertentangan dengan UU No.40 – 1999 (pasal 4 ayat 1, 2 dan 3 dan diancam sanksi pidana berdasarkan pasal 18 ayat 1 ). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/h2&gt; &lt;p style="margin-left: 0.01in; text-indent: -0.01in; font-style: normal; line-height: 150%;" align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1673721413768826721-1394333583263929096?l=andimuis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andimuis.blogspot.com/feeds/1394333583263929096/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1673721413768826721&amp;postID=1394333583263929096' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/1394333583263929096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/1394333583263929096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andimuis.blogspot.com/2008/04/masyarakat-butuh-lembaga-police-watch.html' title='MASYARAKAT BUTUH  LEMBAGA   POLICE  WATCH'/><author><name>andimuis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06105756226945864269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1673721413768826721.post-5134537936052104450</id><published>2008-04-01T21:01:00.000-07:00</published><updated>2008-04-01T21:03:37.286-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='law'/><title type='text'>KEBIJAKAN  POLRI    DAN  TAYANGAN  BERITA</title><content type='html'>A.Muis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;b&gt;Paper  ini merupakan lanjutan isi paper saya tanggal 12 Mei 2004 berjudul ” MASALAH  TAYANGAN BERITA KRIMINALITAS  DI TELEVISI” (isi wawancara saya dengan Radio Nederland tanggal 4 Mei 2004)   dan      ulasan atas keterangan Waka Divisi Humas Polri, Brigjen (Polisi) Drs. Sunarko, dalam rapat dengar pendapat (hearing) dengan KP3T tanggal 12 Mei 2004  tentang pembentukan &lt;/b&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Tim Pemantau&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Pemberitaan TV&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;b&gt; ditambah ulasan  atas  kebijakan &lt;/b&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Kapolda Sulsel&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;b&gt;, Irjen Polisi  Drs Saleh  Saaf  tentang &lt;/b&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;pembatasan  liputan TV  dalam operasi&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;b&gt; – &lt;/b&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;operasi  penanggulangan kriminalitas   oleh polisi  di Sulsel. .    &lt;/b&gt;&lt;/u&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;u&gt;              &lt;/u&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;                   &lt;b&gt;1. Menurut Waka Divisi Humas POLRI, Brigjen (Polisi), Drs. Sunarko,  keprihatinan KP3T terhadap meluasnya tayangan berita kriminalitas TV yang menonjolkan  aspek kekerasan adalah juga keprihatinan  POLRI. Karena itu  POLRI-lah yang lebih dahulu mengamini  upaya KP3T untuk menanggulangi hal itu Kebetulan POLRI telah membentuk &lt;/b&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Tim Pemantau&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Pemberitaan TV&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;b&gt;   yang pada intinya bertugas membatasi tayangan berita kriminalitas TV yang menonjolkan kekerasan.    Cara yang ditempuh bersifat persuasif . Menurut Waka Divisi Humas Polri  teman – teman wartawan dianjurkan untuk tidak ikut meliput     operasi penangkapan terhadap para tersangka pelaku  kejahatan yang berbentuk paksaan . Juga polisi perlu melindungi keselamatan teman – teman wartawan.   Jadi demi    ketenangan  dan ketertiban masyarakat maka  pemberitaan TV mengenai kriminalitas perlu dibatasi. Tetapi cara – cara yang ditempuh menurut   Brigjen (Pol) Drs.Sunarko   disesuaikan dengan  konteks   permasalahan  di lapangan atau bersifat situasional.  Pengertian ini memang agak luas.            &lt;/b&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;                &lt;b&gt;2. Sementara itu  &lt;/b&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Kapolda Sulsel&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;b&gt;, Irjen (Pol) Drs.Saleh Saaf   menyatakan kepada wartawan setempat Selasa 18 Mei 2004   bahwa  kebijakannya membatasi peliputan TV terhadap kriminalitas  tujuannya adalah  agar tidak timbul  kesan buruk masyarakat terhadap kinerja polisi dalam menangani kriminalitas.  Pembatasan tersebut  berlaku pula terhadap   wawancara wartawan dengan   para tersangka pelaku kejahatan   dengan  tujuan yang sama.    &lt;/b&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;                &lt;b&gt;3 Masalahnya,  mengapa pemberitaan   kriminalitas  di TV yang menonjolkan aspek kekerasan  dan sadisme  semakin merebak belakangan ini?   Mengapa TV beramai-ramai membuat acara  - acara  siaran kejahatan dalam bentuk &lt;/b&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;film semi cerita&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;b&gt; atau &lt;/b&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;film semi dokuemnter&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;b&gt; dengan berbagai macam nama seperti &lt;/b&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Lacak&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;b&gt;, &lt;/b&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Buser&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;b&gt;, &lt;/b&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Investigasi&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;b&gt;, &lt;/b&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Bidik&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;b&gt; dsb   yang  menyajikan  berita  rekonstruksi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;b&gt;perbuatan pidana  (misalnya pembunuhan atau penganiayaan berat)  dengan  bumbu – bumbu   &lt;/b&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;skenario kekerasan&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;     &lt;b&gt; dan     &lt;/b&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;i&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;investigative reporting?                &lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;b&gt;4.  Apa akar masalahnya?  Sudah pasti tidak bisa luput dari  keterlibatan   jurnalistik TV yang teknologinya  tinggi atau  canggih  disampaing  cara melaksanakan &lt;/b&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;tuntutan kebebasan pers.&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;b&gt; Kita semua mengetahui, bahwa TV tergolong jenis media massa yang teknologinya tinggi (&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;high tech&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;) , yakni memiliki  ciri &lt;/b&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;audio-visual sinematografis&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;b&gt; yang menciptakan   efek &lt;/b&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;identifikasi optik&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;b&gt; dan &lt;/b&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;identifikasi psikologis&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;b&gt; bagi khalayak   (&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;high touch&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;)  Juga era kebebasan pers  atau  kedudukan pers sebagai pilar keempat demokrasi   (&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;the fourth estate&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;)  tidak bisa luput sebagai akar masalah kebebasan pemberitaan TV   yang tak seimbang dengan  rambu-rambu KEJ/KEWI dan rambu-tambu hukum cq UU Pers dan UU Penyiaran. .  Budaya kekerasan (&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;violent culture&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;)   yang sudah lama mendominasi perilaku masyarakat kita   tak mungkin luput sama-sekali dari cara berpikir para pekerja media massa dan  aparat keamanan.  Arogansi dan pendekatan kekuasaan aparat keamanan  sulit dilepaskan dari  peranannya  sebagai salah satu akar masalah tayangan kekerasan di TV.  Hal itu adalah suatu realitas yang tak terbantah seperti  kelihatan dengan sangat jelas dalam tayangan berita SCTV tentang penyerbuan polisi di kampus UMI Makassae tanggal 1 Mei 2004 yang heboh itu.            &lt;/b&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;             &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;            &lt;b&gt;5.   Akar masalah   tayangan kekerasan di TV tersebut  dapat dihubungkan dengan berbagai teori  dan permasalahan atau protes  dari banyak pihak. &lt;/b&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;            &lt;b&gt;6. Dari sudut pandang  teori jurnalistik laporan mengenai suatu kejadian terutama yang bernilai berita penting ( &lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;magnitude&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;, &lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;prominence&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;, &lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;proximity, oddity, importance, proximity  &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;dsb )  seperti kasus UMI Makassar itu    lazimnya diuraikan secara rinci dan dikedepankan engel – engel kejadian yang dianggap penting ( untuk TV disebut  &lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;close up&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt; ). Cara  seperti itu tampak dengan jelas di dalam  liputan SCTV (Iwan Taruna cs) mengenai penyerbuan polisi di kampus UMI Makassar tanggal 1 Mei 2004.  Itulah pula   cara    penerapan fungsi  &lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;agenda setting&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;   dan  &lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;gatekeeper  &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;dalam upaya mempertemukan   keinginan SCTV&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;  &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;(agenda media&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; ) &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;dengan keinginan pemirsa&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;(agenda khalayak)&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;b&gt;  TV yang memiliki teknologi tinggi&lt;/b&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt; (audio-visual sinematografis&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;b&gt;)   tentu saja   perngaruh  tayangan beritanya sangat tajam bagi pemirsa  baik berupa pengtuh kognitif maupun pengaruh opini dan prilaku (proses identifikasi optik dan identifikasi psikologis)  Penonton mudah mengalami kemuakan moral atau kemuakan etis dalam  menyaksikan  kekejaman para penyerbu kampus UMI itu. &lt;/b&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;u&gt;                 &lt;/u&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;             &lt;b&gt;7.   Kejadian itu  mungkin merupakan salah satu alasan   bagi   Kepala Polisi   Daerah    Sulsel  ,   Inspektur   Jenderal    Drs. Saleh   Saaf  untuk membatasi   &lt;/b&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;b&gt;pemberitaan  TV  dalam kasus-kasus kriminalitaa di daerah itu . Tujuannya adalah agar citra polisi dimata masyarakat tidak  buruk.       &lt;/b&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;             8.&lt;b&gt;    Jadi kelihatan ada perbedaan tujuan dan maksud  mengenai penolakan terhadap  pemberitaaan TV   yang menonjolkan kekerasan . Di satu pihak  masyarakat   dan     KP3T      bersasma   Disvisi   Humas   Polri    “mengharamkan”  tayangan  kekerasan di TV  karena  hal itu  melanggar etika  (KEJ  / KEWI)  , moral,  UU Penyiaran dan UU Pers. Juga   tayangan-tayangan  kekekrasan di TV &lt;/b&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;b&gt;itu mempertontonkan pelanggaran  HAM dan Hukum oleh para pelaku kekerasan. Di pihak lain, ada keinginan  menyembuyikan prilaku kekerasan aparat terhadap warga masyarakat. &lt;/b&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;          &lt;b&gt;9. Sebenarnya bagi media massa in casu TV     tayangan berita kriminalitas yang menonjolkan kekerasan  justeru dapat berarti  suatu upaya  &lt;/b&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;kontrol sosial&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;b&gt;  atau &lt;/b&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;kritik&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;b&gt; terhadap kekerasan ;     ingin membentuk opini publik yang benci terhadap prilaku aparat yang tak terpuji  (seperti kasus UMI)  . Atau media ingin melaksanakan fungsi  pengawasan lingkungan &lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;(surveilance of the invironment&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;), yakni mengingatkan  masyarakat agar selalu bersikap waspada karena banyak terjadi kekerasan.  Hal itu juga sesuai dengan   maksud pasal   6 ayat b UU Pers, bahwa masyarakat berhak mengetahui     apa yang terjadi dalam lingkungannya  termasuk tentang kinerja lembaga-lembaga kekuasaan (&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;public’s right to know&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;).  .   &lt;/b&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;        &lt;b&gt;10. Berkata   &lt;/b&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Jeremy Bentham&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;b&gt;  . ahli filsafat hukum Inggeris abad 18,    bahwa  tanpa publisitas  mengenai seluruh proses pemerintahan maka perbuatan jahat (evil) akan terus-menerus terjadi; tidak ada pemerintah yang kinwerjanya baik tanpa pengawasan publisistas pers. Juga menurut &lt;/b&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Joseph Pulitzer&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;b&gt; hanya ada satu cara untuk mengkuhkan demokrasi, yakni nenberikan infomasi terus-menerus kepada publik  tentang semua kejadian di sekitar kita. Jangan ada perbuastan jahat disembunyikan, jangan ada kelicikan, kebohongan, akal-akalan tipu daya  dan cara kerja buruk pemerintah yang dirahasiakan. Beberkan semuanya melalui pers, hujat, cemohkan semua  perbuatan buruk yang ada  melalui pers  . Lambat laun   opini publik akan menyapu bersih semua keburukan itu  &lt;/b&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol start="11"&gt; &lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;b&gt;KESIMPULAN.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;  &lt;p style="margin-left: 0.29in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;       &lt;b&gt;Dengan demikian, upaya membatasi pemberitaan TV   di luar kewenangan UU Penyiaran, UU Pers , KUH-Pidana dan yurisprudensi  dapat menimbulkan masalah kebebasan pers. Jika POLRI ingin  agar kekerasan yang dilakukan oleh sebagian anggota-anggotanya tidak diberitakan oleh TV  dan  media massa lainnya maka cara yang terbaik adalah menghentikan  kebiasaan yang buruk itu  Di lain pihak  tentu saja  TV   juga  wajib  mentaati rambu – rambu hukum dan kode etik jurnalistik  dalam memberitakan  peristiwa – peristiwa kejahatan  agar   kebebasan pers  tidak rusak. &lt;/b&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;                         &lt;b&gt;Lebih dan kurangnya mohon dimaafkan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1673721413768826721-5134537936052104450?l=andimuis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andimuis.blogspot.com/feeds/5134537936052104450/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1673721413768826721&amp;postID=5134537936052104450' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/5134537936052104450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/5134537936052104450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andimuis.blogspot.com/2008/04/kebijakan-polri-dan-tayangan-berita.html' title='KEBIJAKAN  POLRI    DAN  TAYANGAN  BERITA'/><author><name>andimuis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06105756226945864269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1673721413768826721.post-4607177474655931791</id><published>2008-04-01T20:55:00.000-07:00</published><updated>2008-04-01T20:58:06.290-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='law'/><title type='text'>MASALAH    PERILAKU  TV   INDONESIA</title><content type='html'>A.Muis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Para pengelola TV Swasta di Jakarta ternyata kurang mampu atau enggan  membenahi acara-acara hiburan mereka yang kurang memenuhi syarat-syarat hiburan yang sehat seperti diharuskan oleh UU Penyiaran.  Agaknya hal itu menguntungkan secara ekonomis bagi TV Komersial, tetapi merugikan secara moral dan etika,  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;            Pembuatan UU Anti Pornografi  perlu   dibarengi temuan teknologi baru untuk  melacak sumber kejahatan itu. Kalau tidak maka keberadaan undang - undang itu  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;tak banyak maknanya. &lt;i&gt;Cyberlaw&lt;/i&gt; itu sendiri masih bermasalah di beberapa negara yang teknonolginya  masih dalam taraf sedang berkembang termasuk Malaysia yang  masih  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;memakai pengertian &lt;i&gt;development of cyberlaw&lt;/i&gt; sejak tahun 1997.  Kejahatan dunia maya  (&lt;i&gt;cybercrime&lt;/i&gt;)  memang sangat sulit dilacak.   Di Indonesia hukum harus berperan   sebagai alat rekayasa sosial &lt;i&gt;( social engineering &lt;/i&gt;)  yang bisa mendorong  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;aktivitas masyarakat khususnya para pakar teknologi untuk menciptakan teknologi baru  yang dapat digunakan untuk mengontrol kebebasan internet sehingga &lt;i&gt;cybercrime&lt;/i&gt; termasuk pornografi bisa  dihadang.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;               Tentu menarik untuk diketahui   bahwa keberadaan  jaringan internet global ( &lt;i&gt;cyberspace&lt;/i&gt; )  dengan  kebebasannya yang amat luas  telah berdampak penyampaian informasi dan hiburan  yang menyebar di dalam masyarakat  melalui arus komunikasi berlangkah banyak ( &lt;i&gt;multi - step flow of communication&lt;/i&gt; ).  Itulah sebabnya  banyak   &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;acara - acara hiburan yang disiarkan lembaga penyiaran terutama TV dapat dianggap   tidak lagi sesuai dengan maksud pasal 36  ayat 6 UU Penyiaran , pasal 282, 532 dan 533 KUH - Pidana  dan pasti juga bisa melanggar UU Anti Pornografi kelak. Juga ada yurisprudensi  tahun 1950 yang memberikan  batasan  yang luas terhadap pornografi  sehingga mencakup gerak - gerik  dan cara berpakaian  perempuan yang  erotis.                     Keberadaan jaringan internet global ( &lt;i&gt;cyberspace&lt;/i&gt; )  dengan sifat - sifat bebas yang dibawanya  telah menghadirkan budaya komunikasi baru yang sangat memuliakan  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;.kebebasan berekspresi dalam berbagai bentuk. Budaya komunikasi ( &lt;i&gt;media culture &lt;/i&gt;) yang baru itu tentu saja mengobarkan semangat kebebasan media massa termasuk lembaga penyiaran.  Perubahan budaya komunikasi itu menjadi salah satu sebab utama maraknya pornografi. Maka menonton pornografi juga dianggap sebuah kebebasan  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;komunikasi yang merupakan  HAM dan memang bukan kejahatan  menurut KUH -Pidana maupun menurut UU Penyiaran karena  penonton ( &lt;i&gt;audience&lt;/i&gt; ) memang bukan  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;komunikator massa. Hanya dari sudut pandang komunikasi religius  hal itu termasuk dosa  atau haram hukumnya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;             Masalah lain yang menarik adalah  pornografi selalu melibatkan perempuan sebagai obyek eksploitasi. Martabat perempuan sangat terlecehkan di dalam pornografi. Tapi realitas menunjukkan bahwa kebutuhan sosial yang berupa hiburan  selalu saja melibatkan perempuan sebagai  obyek. Film - film  cerita  kebanyakan memberikan  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;peranan kepada perempuan sebagai obyek kekerasan dan kejahatan seks.  Di samping itu  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;sejarah juga banyak berbicara tentang hal itu.  Arti pornografi menurut bahasa Yunani kuno adalah &lt;i&gt;porne&lt;/i&gt; ( perempuan jalang ) dan &lt;i&gt;grapos&lt;/i&gt; ( gambar ). Dengan demikan dari sudut bahasa dan sejarah pornografi memang berkonotasi    “lukisan perempuan jalang”.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;                       Kalau UU Anti Pornografi memang diperlukan maka sebenarnya lebih perlu lagi diciptakan teknologi baru  yang mampu mengontrol &lt;i&gt;cybercrime&lt;/i&gt;. Kalau tidak maka UU Anti Pornografi hanya mampu “memasung” TV, radio dan pers. Tetapi sangat sulit menjamah kebebasan internet. Jadi ada ketidakadilan. Padahal baik lembaga penyiaran, pers maupun internet adalah komponen - komponen sistem media baru yang notabene  terbentuk oleh keberadaan dunia maya. ..&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;                       Asosiasi Televisi Swasta  Indonesia (ATVSI)  yang beranggotakan semua TV Swasta di Jakarta itu   kini membentuk Komisi Penegakan Pedoman Perilaku TV  .Tugasnya adalah   menangani berbagai acara TV Swasta   yang dianggap kurang senonoh atau menyimpang dari etika  penyiaran audio-visual termasuk acara-acara hiburan dan film yang melanggar kesusilaan atau kaidah-kaidah agama.  Sambil menunggu  UU Anti Pornografi  tentulah Komisi itu  harus menggunakan dahulu perangkat hukum yang ada   sebagai tolok ukur pornografi  . misalnya tarian-tarian yang  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;yang erotis, yakni [pasal 36 UU Penyiaran, pasal 282, 532 dan 533    KUH-Pidana .Kira-kira begitulah.  Komisi ini tak bisa bekerjasama dengan Komisi Penyiaran Indonwesia (KPI)  karena justeru ATVSI tak mengakui keberadaan KPI dan telah mengajukan  peninjauan  kembali &lt;i&gt;(judicia review&lt;/i&gt;) UU Penyiaran kepada Mahkamah Konstitusi. Kira-kira begitulah.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1673721413768826721-4607177474655931791?l=andimuis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andimuis.blogspot.com/feeds/4607177474655931791/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1673721413768826721&amp;postID=4607177474655931791' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/4607177474655931791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/4607177474655931791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andimuis.blogspot.com/2008/04/masalah-perilaku-tv-indonesia.html' title='MASALAH    PERILAKU  TV   INDONESIA'/><author><name>andimuis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06105756226945864269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1673721413768826721.post-2396589524676013361</id><published>2008-04-01T20:52:00.000-07:00</published><updated>2008-04-01T20:54:30.748-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='law'/><title type='text'>MENDESAK,   UU  ANTI  PORNOGRAFI.</title><content type='html'>A.Muis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Pansus DPR-RI sedang  membahas RUU Anti Pornografi. . UU yang mengatur pornografi erat kaitannya dengan  media massa. Hal itu    sesuai dengan definisi  terminologis pornografi itu sendiri, yakni  diseminasi  gambar yang melanggar kaidah-kaidah kesusilaan atau kaidah-kaidah agama , Keberadaan RUU Anti Pornografi  tentu dapat pula dikaitkan dengan  kejahatan  seks yang banyak terjadi  belakangan ini . Artinya,  keberadaan UU Anti Pornografi   mengisyaratkan kemungkinan  adanya dampak   media massa  terhadap  perilaku orang-orang (misalnya para penonton TV)  yang terlibat dalam kejahatan seperti itu.  Dari sudut pandang metodologi penelitian  efek media rentu saja hal itu masih merupakan sebuah hipotesis  yang perlu dibuktikan  (adanya korelasi positif).  .            &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;                   Adalah Wapres Hamzah Has yang menyatakan, siaran TV banyak menyebarkan pornografi. Hal itu dinyatakan oleh Wapres ketika beliau menjadi khatib shalat Jumat di Mesjid Istiqamah di Jl.Raya Ceger, Jakarta Timur, 5 Juli 2003. Juga do’a penutupan ST-MPR 7 Agustus 2003 berisi keprihatinan yang mendalam tentang meluasnya pornografi di media massa. Adalah pula Menteri Agama Said Agil yang meminta kepada para pengelola TV  untuk meniadakan siaran  –  siaran yang berbau pornografi. Himbauan itu diutarakan Menag  dalam pidato menyambut Idul fitri 1424 Hijriah. Prakarsa Majelis Ulama Indonesia ( MUI )  tentang perlunya dibuat UU Anti Pornografi dilatar belakangi kenyataan kian meluasnya pornografi di media massa belakangan ini , meskipun tak semua media massa  melakukan hal itu.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;             Dewasa ini seolah - olah terjadi “perang” yang sengit  antara  kekuasaan hukum dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi khususnya di bidang internet  atau  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;dunia maya ( &lt;i&gt;cyberspace &lt;/i&gt;).  Kemajuan   teknologi  yang  luar biasa telah menciptakan  komunikasi  dunia maya  &lt;i&gt;( cybercommunication&lt;/i&gt; )  yang sangat bebas , yang  oleh Henry Perritt  dijuluki  sebagai sebuah jalan raya yang tak bertepi dan tak berujung  ( &lt;i&gt;information superhigh way&lt;/i&gt; ).  Kebebasan jaringan internet  ( dunia maya ) ini bukan lagi  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;hanya masalah HAM dan hukum, karena kalau hanya soal HAM maka itu bisa dibatasi dengan tindakan regulasi. Tetapi kebebasan  internet hanya bisa dikontrol dengan   &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;alat  elektronik pula. Itu berarti, hukum hanya bisa  “mengekor” pada teknologi dalam upaya  mengontrol kebebasan dunia maya itu. Hukum tak mampu melindungi masyarakat  dari kejahatan dunia maya  ( &lt;i&gt;cybercrime &lt;/i&gt;)  termasuk pornografi tanpa bantuan teknologi. Baik UU Penyiaran maupun UU Pers dan KUH - Pidana ( pasal  282, 532 dan 533 ) tak akan bisa berbuat banyak dalam melawan pornografi  di internet. Secara  hukum   &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;pornografi di internet melanggar pasal - pasal KUH - Pidana tersebut, tetapi Hukum Acara Pidananya ( KUHAP )  sulit diterapkan untuk melacak pembuat pornografi di   &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; internet   tanpa  bantuan teknologi.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;            Di dalam UU Penyiaran dan UU Pers sebenarnya ada ketentuan yang melarang lembaga penyiaran dan pers menyebarkan isi siaran, berita dan opini yang melanggar norma - norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat. Masing - masing pasal 36 ayat 6 dan  pasal 5 ayat 1. Sanksi pidananya bagi TV 5 tahun penjara atau denda  10 milyar rupiah dan bagi radio juga 5 tahun penjara atau denda 1 milyar rupiah                                ( pasal  57 ). Sedangkan menurut pasal 5 ayat 1 UU Pers dilarang  memberitakan pendapat dan opini  ( apa bedanya pendapat dengan opini ? ) yang tidak menghormati  norma - norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat. Sanksinya adalah denda sebanyak lima ratus juta rupiah saja tanpa hukuman badan walaupun pers itu tak mau bayar denda, ( pasal 18 ). Ini menarik. Opini yang membela pornografi tidak boleh diberitakan karena  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;opini itu tidak menghormati norma - norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat. Misalnya ada pendapat, bahwa tarian – tarian yang erotis yang dibawakan oleh  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; perempuan dengan pakaian  yang sangat minimum  adalah  kebebasan berekspresi dan merupakan HAM. Opini yang dimaksud oleh pasal 5 ayat 1 UU Pers dapat merupakan   &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;opini media massa itu sendiri, dapat pula merupakan opini sumber berita. Jika hal terakhir itu terjadi, maka terjadi pula  pelanggaran terhadap pasal 5 ayat 1 UU Pers yunto  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;pasal 55 – 56 KUH - Pidana. yaitu   penyertaan   dalam perbuatan pidana ( &lt;i&gt;deelneming&lt;/i&gt; ). Mungkin pers yang terkait dapat dituduh memberikan kemudahan atau bantuan kepada sumber berita dalam menyebarkan opininya  ( &lt;i&gt;medeplichtige&lt;/i&gt; ). Hal itu diatur di dalam pasal 56 KUH – Pidana&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1673721413768826721-2396589524676013361?l=andimuis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andimuis.blogspot.com/feeds/2396589524676013361/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1673721413768826721&amp;postID=2396589524676013361' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/2396589524676013361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/2396589524676013361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andimuis.blogspot.com/2008/04/mendesak-uu-anti-pornografi.html' title='MENDESAK,   UU  ANTI  PORNOGRAFI.'/><author><name>andimuis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06105756226945864269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1673721413768826721.post-5065694270579161646</id><published>2008-04-01T20:50:00.000-07:00</published><updated>2008-04-01T20:51:02.389-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mass media'/><title type='text'>TV MUSUH PUBLIK ?</title><content type='html'>A.Muis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;p style="margin-right: 0.88in; text-indent: -0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Dalam pertemuan antara para pengelola TV swasta yang menjadi anggota Assosiasi TV Swasta Indonesia ( ATVSI ) dengan Komite Penegakan Pedoman Perilaku TV ( KP3T ) beberapa waktu yang  lalu muncul istilah yang “ mengagetkan “, yakni TV sekarang menghadapi masyarakat yang membenci isi siaran TV ( &lt;i&gt;public enemy&lt;/i&gt; ). Yang “ dibenci “ adalah tayangan – tayangan hiburan yang dinilai vulgar, tayangan – tayangan berita kriminalitas yang bernuansa kekerasan, tayangan – tayangan mistik, iklan yang menyesatkan dan eksploitasi seks.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-right: 0.88in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-right: 0.88in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;                        Kalau TV dihadapkan pada penilaian negatif, dan banyak menerima protes dari berbagai pihak              terutama sejumlah LSM, maka hal itu wajar – wajar saja, dan tak perlu terlalu dirisaukan. Bukankah   komunikasi massa ( media massa ) itu selalu melibatkan khalayak ( &lt;i&gt;audiences&lt;/i&gt; ) yang jumlahnya sangat besar, anonim dan heterogen ? Bukankah isi ( pesan ) media massa bersifat terbuka untuk publik ( &lt;i&gt;offenliche Aussage&lt;/i&gt; ) ? Publik atau audience yang begitu banyak dan heterogen dalam berbagai hal, misalnya nilai – nilai budaya dan kerangka pikir ( &lt;i&gt;frame of reference&lt;/i&gt; ). Masuk akal jika ada  diantara jutaan audiences media massa ( in casu TV ) kelompok – kelompok ( komunitas ) yang tidak senang terhadap isi siaran / pesan TV sebagian atau seluruhnya ( &lt;i&gt;selective perception&lt;/i&gt; ). Dimana – mana bisa dilihat adanya kejadian – kejadian seperti itu yang terkait dengan teknologi TV atau yang disebut oleh Annette Hill living media yang menyebarkan tayangan – tayangan hiburan yang menggetarkan penonton ( &lt;i&gt;shocking entertainment&lt;/i&gt; ). Ada reaksi negatif dan ada positif. Sedang menurut Prof. George Gerbner bagi masyarakat di dunia maju ( Dunia I ) TV sudah lama menjadi “ agama baru “ ( &lt;i&gt;TV as new religion&lt;/i&gt; ). Yang ia maksud, TV sudah menjadi medium sosialisasi yang menstandarisasikan peranan dan perilaku bagi kebanyakan orang. Fungsi TV sudah merupakan fungsi p-embudayaan ( &lt;i&gt;encultration &lt;/i&gt;). Orang belajar mengenal nilai – nilai dari TV ; bagaimana menjalankan peranan di dalam masyarakat, bagaimana berperilaku yang pantas, sifat – sifat apa yang patut dipuji dalam pergaulan. Semua itu dipelajari banyak orang  dari TV. Pengaruh TV yang terkesan berlebihan itu tentu saja tidak berlaku di dalam masyarakat – masyarakat yang solidaritas sosialnya bersifat mekanis ( &lt;i&gt;Gemeinschaft&lt;/i&gt; ) seperti di Indonesia yang memiliki banyak komunitas atau kelompok – kelompok yang berciri demikian. Peranan TV sebagai medium sosialisasi yang paling kuat seperti kata George Gerbner tersebut terbendung oleh sikap selektif berbagai komuniats yang lebih kuat lagi terhadap isi pesan media massa in casu tayangan – tayangan TV ( &lt;i&gt;selective exposure, perception and retention&lt;/i&gt; ). Fenomena itulah yang tercermin di dalam tindakan protes dari berbagai LSM terhadap program – program siaran tertentu di TV.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: -0.5in; margin-right: 0.88in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-right: 0.88in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;                        Memang harus diakui, dalam proses modernisasi di pedesaan yang sedang berlangsung dengan cepat itu ada pengaruh TV yang kadarnya lebih besar daripada radio ( hasil penelitian sebuah team riset komunikasi Unhas tahun 1996 di beberapa desa Sulsel ). Hal itu disebabkan oleh teknologi TV yang lebih tinggi mutunya daripada jenis media lainnya ( &lt;i&gt;high tech high touch&lt;/i&gt; ). Tetapi variable modernisasi masyarakat desa itu ternyata lebih terkait dengan kemajuan pengetahuan tentang dunia luar ( cosmopolitan ). Sedang perilaku para warga desa termasuk yang berusia muda pada umumnya tetap dikontrol oleh para pemangku adat dan para pemuka agama ( &lt;i&gt;village opinion leaders&lt;/i&gt; ). Kendati telah diterimanya teknologi baru termasuk TV, kendaraan sepeda motor, listrik, peralatan – peralatan rumah tangga modern dan cara berpakaian penduduk kota, dominasi nilai – nilai agama dan tradisi masih kuat. Singkat cerita budaya komunikasi tradisional di Indonesia masih lebih ampuh daripada pengaruh &lt;i&gt;the living media&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1673721413768826721-5065694270579161646?l=andimuis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andimuis.blogspot.com/feeds/5065694270579161646/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1673721413768826721&amp;postID=5065694270579161646' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/5065694270579161646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/5065694270579161646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andimuis.blogspot.com/2008/04/tv-musuh-publik.html' title='TV MUSUH PUBLIK ?'/><author><name>andimuis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06105756226945864269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1673721413768826721.post-1536018944848943904</id><published>2008-04-01T20:42:00.001-07:00</published><updated>2008-04-01T20:44:37.000-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mass media'/><title type='text'>MEMAHAMI   MAKNA   JURNALISTIK  INFORMASI  HIBURAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: arial;"&gt;A.Muis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tepatkah  infotmasi yang hanya berisi hiburan (infotainment)  masuk kategori  jurnalistik  (ilmu pemberitaan) ?  Apakah hal itu tidak mendangkalkan profesi  wartawan menjadi  sekadar   tukang  (alat) penghibur, pembuat gossip dan sensasi?  Seperti juga dipertanyakan oleh  Cynthia Carter   dan Stuart  Allan tentang  hakekat jurnalistik populer  (2000) , bahwa   kalau media massa atau  jurnalistik  mengutamakan hiburan dan sensasi   lalu apa hakekatnya?  Sekadar  kerajinan (craft) atau pertukangan  (vocation) belaka tanpa perlu kode etik professi dan  pengetahuan akademis?  Menurut Neal Garbner (2000)  kalau berita  mengutamakan unsur hiburan maka  sifat berita itu pasti dangkal  dan issu utamanya tidak memperoleh perhatian khalayak. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;         &lt;span style="font-size:130%;"&gt;Menurut  Cynthia Carter dan Stuart Allan  “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;television news, in the&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;eyes of many critics, is becoming   less serious by the day  in its  search for  ever greater audience rating”. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Para pengkritik jurnalistik populer dan informasi hiburan (infotainment) lainnya  berpendapat bahwa jika sebuah berita sama - sekali tidak memiliki unsur hiburan atau sifat sensasional  maka berita itu tidak akan  menarik  minat khalayak  Dengan kata lain isi berita itu akan diredam  oleh proses selektif di pihak khalayak   dan oleh teori uses and gratifications (U &amp;amp; G).   &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;       &lt;span style="font-size:130%;"&gt;Menurut Carol Reuss (1999)   media pnformasi hiburan ( infotainment  media)   me;ebih-lebihkan hiburan untuk memberi kegairahan, ransangan, sifat remeh dan sifat sederhana  sebuah  berita, yang tentu saja dapat membingungkan khalayak. Menurut dia   biasanya  media informasi hiburan (inforainment media ) menjangkau khalayak yang tidak menggemari media yang serius untuk membuat keputusan  tentang apa yang diperlukannya. Dengan demikian media informasi hiburan  memang bermanfaat pula bagi orang-orang tertentu , yang tidak memiliki  kemauan untuk  banyak berpikir   ( segmentasi  khalayak).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;                            &lt;span style="font-size:130%;"&gt;Jurnalistik  sensasional. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;          &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;     &lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pengamat lain, misalnya A.David Gordon (1999) ,  menyatakan, bahwa jurnalistik    informasi   hiburan    (infotainment journalism)   memang     ada &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;juga manfaatnya  sebagai  informasi. Tetapi tidak dapat menyajikan pengetahuan  ilmiah yang memadai (knowledge)  bagi khalayak. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Sensasionalisme yang melekat pada informasi jenis itu  cenderung menimbulkan respons yang berrsifat emosional dan personal dari khalayak, bukan respons yang bersifat pemikiran (reasoned response). Materi berita yang sensasional  justeru   membatasi  pemberian pengalaman bagi khalayak untuk dijadikan sebagai sumber pengetahuan  karena yang diutamakan adalah   stimulasi  atau ransangan perasaan atau emosi. Jika dirinci  pendapat David Gordon itu maka stimulasi emosi dapat berwujud   rasa gairah, senang (amused), terharu, ngeri, sedih, takut, terpesona, geram,  muak, jijik, atau benci,  David Gordon menyingkatkan makna jurnalistik infotainment  sebagai  cara  pemberitaan  yang mampu membangkitkan  (elicit) “emotional&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-size:130%;"&gt;or  sensory stimulation“.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;        &lt;span style="font-size:130%;"&gt;Gossip , selentingan, rumor, dan  kejadiaan- kejadian langka. dahsyat, aneh, adalah beberapa menu utama atau nilai berita penting  (magnitude, prominence, oddity ) bagi  jurnalis infotainment  Itulah sebabnya  cara pengambilan angel  obyek liputan , penggunaan kata-kata, istilah – istilah   (dictions)  di dalam jurnalistik  jenis itu  juga “aneh-aneh”, penuh sensasi. Misalnya minggatnya seorang arris perempaun dari suamnya, penyiksaan  seorang selibiritis laki-laki terhadap isterinya yang juga selibiritis,  dan semacamnya, yang dibunbui narasi , komentar-komentar, yang dramatis.  Termasuk pula tindakan “aneh-aneh” jurnalis jenis  itu  dalam upaya mencari  kejadian-kejadian atau  orang-orang yang layak berita (newmakers) tertentu  seperti mengetuk-ngetuk pintu  mobil obyek berita dan  sekali-sekali  mengikuti cara-cara paparazzi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;         &lt;span style="font-size:130%;"&gt;Lantas, bagaimana pula  memahami  hakekat  liputan seorang kamerawan amatir , Syamsul (?) ,  yang berhasil  mengabadikan saat-saat terjadinya  gelombang sunami , peristiwa alam yang luar biasa itu ,  di Banda Aceh  pada tanggal 26 Desember 2004 ?  Kameranya disorotkan  dari aras , dari tempat wudu Mesjid Raya Baitul Rahman Banda Aceh. Hasil liputan  yang sarat nilai berita penting  itu  (magnitude, oddity, global proximity)   kemudin disiarkan oleh Metro-Tv berkali-kali.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;                                               &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;                          &lt;span style="font-size:130%;"&gt;Peranan jurnalistik televisi. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;          &lt;span style="font-size:130%;"&gt;Disiarkannya kejadian itu melalui media penyiaran yang bersifat audio-visual sinematografis  (living media) membuat kejadian luar biasa   itu  seakan-akan dialami sendiri oleh jutaan penonon TV  (optic identification).Gelombang dahsyat itu nampak memyapu apa saja termasuk mamnusia,  menjungkir-balikkan mobil – mobil, balok-balok kayu,  pohon-pohon  dan dahan-dahan kayu,   dibarengi suara gemuruh yang dahsyat, teriakan histeris manusia dan  orang-orang memanjat pohon untuk menyelamatkan diri. Semua kejadian itu pasti membuat penonton  terkesima, terharu, ngeri, sedih, pilu, merasa tak berdaya menghadapi kekuasaan Allah Swt  (dampak media audio-visual  yang dikenal dengan istilah psychological identification sebagai kelanjutan optic identification).      &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;        &lt;span style="font-size:130%;"&gt;Jelas,   liputan audio-visual itu   menonjolkan sifat-sifat sensasional  dan  mendorong respons emosional dari khalayak. Gelombang sunami yang masuk di mesjid itu ternyata tidak bergejolak  sedikitpun  menurut  keterangan kamerawan amatir itu kepada Metro-TV. Hal  itu menambah sifat  sensasuonal  (keajaiban)  peristiwa berita  (news event)  yang luar biasa  itu. Maka tanpa disengaja, berita itu  memiliki  ciri-ciri  (mirip)  infotainment.          &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;        &lt;span style="font-size:130%;"&gt;Agaknya benarlah definisi Prof. Roland E. Woleseley  dan Prof.Laurence R. Campbell  “tempo doeloe”  (1949)  bahwa jurnalistik adalah  diseminasi informasi, opini dan hiburan dengan cara sistematik dan dapat dipercaya melalu media massa modern.  Yang  dimksud media massa “modern” waktu itu  tentu  barulah media cetak, media penyiaran radio  dan film berita (newsreels).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;       &lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dengan  demikian   jurnalistik memang  memiliki  pula fungsi  hiburan. Hal itu  sejalan  dengan  fungsi media massa  yang  mencakup fungsi hiburan.  Juga perlu difahami, bahwa media massa tidak dapat menjalankan fungsi-fungsinya (informasi, edukasi dan  hiburan ) tanpa jurnalistik. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;        &lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dapatlah ditarik kesimpulan singkat,  bahwa jurnalistik informasi hiburan (infotainment journalism)  memang bermanfaat  bagi  masyarakat . Tetapi unsur hiburannya   dan / atau sensasionalismenya   hanyalah  sebagai sarana (alat) atau “bumbu penyedap” untuk menarik minat khalayak (audience)  guna memasuki  masalah pokok yang diberitakan. Infotainment bukanlah tujuan  jurnalistik dan media massa.           &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1673721413768826721-1536018944848943904?l=andimuis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andimuis.blogspot.com/feeds/1536018944848943904/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1673721413768826721&amp;postID=1536018944848943904' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/1536018944848943904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/1536018944848943904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andimuis.blogspot.com/2008/04/memahami-makna-jurnalistik-informasi.html' title='MEMAHAMI   MAKNA   JURNALISTIK  INFORMASI  HIBURAN'/><author><name>andimuis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06105756226945864269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1673721413768826721.post-4304900956683564252</id><published>2008-04-01T20:38:00.000-07:00</published><updated>2008-04-01T20:40:19.471-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='law'/><title type='text'>Tragedi  Hukum dan Politik  12 Pebruari 2004</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; A.Muis&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Kasus Akbar Tandjung merupakan berita terbesar di awal tahun 2004 ini di samping kasus Kampar, demam berdarah, gempa bumi, banjir  dan Pemilu. Di dalam kasus Akbar Tandjung  semua nilai berita menonjol. , terutama keluarbiasaan ( &lt;i&gt;magnitude&lt;/i&gt; ), ketegangan ( &lt;i&gt;suspense&lt;/i&gt; ), keanehan ( &lt;i&gt;oddity&lt;/i&gt; ) atau sifat kontroversil dan kemashuran atau ketenaran sosok Akbar Tandjung &lt;i&gt;( prominence&lt;/i&gt; ).&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;               Faktor – faktor itulah yang menjadi penyebab utama bergesernya kasus hukum Akbar Tandjung ini kepada masalah politik yang besar. Protes – protes masyarakat dan mahasiswa terhadap putusan MA tanggal 12 Februari 2004 yang membebaskan Akbar Tandjung sarat dengan nada komunikasi politik. Ternyata pula aksi unjuk rasa mahasiswa di sejumlah kota di Indonesia itu berdarah – darah memancing pelanggaran HAM khususnya di Jakarta dan di Makassar. Kejadian itu menunjukkan kenyataan masih digunakannya pendekatan kekuasaan represif terhadap aksi – aksi unjuk rasa mahasiswa. Demonstrasi mahasiswa atau warga masyarakat yang mengajukan protes sosial adalah sebuah bentuk komunikasi politik. Kebebasan komunikasi termasuk komunikasi politik adalah HAM. Semua bentuk tindakan represif terhadap aksi demonstrasi yang mengajukan protes sosial adalah pelanggaran HAM. ( Bab XA UUD’45 )&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;              Dampak politik dan psikologis dari pengumuman putusan MA tgl 12 Februari 2004 itu memang cukup luas. Opini publik yang dibentuk oleh pengumuman putusan itu melalui pemberitaan pers seakan – akan hendak “menghakimi” AT dan seakan – akan ingin “mengambilalih” tugas MA.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;              Tidak kurang dari mantan Presiden Abdurrahman Wahid yang menyatakan kepada para wartawan tgl 14 Februari 2004 “bahwa MA tidak jujur”. Roy B. B. Janis, anggota DPR dari PDI-P menyatakan putusan MA itu bisa menjadi bumerang bagi partai Golkar dalam Pemilu 2004 ini. Sedang Ketua MPR Amien Rais kurang lebih menyatakan, polisi, jaksa, dan hakim bisa meloloskan perkara pidana ; hanya Allah SWT yang tidak bisa diajak meloloskan perbuatan yang buruk.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;                  Elite politik lainnya berpendapat, sebaiknya kita dapat memahami putusan MA dan menurut Menko Polkam, Susilo Bambang Yudhoyono sebaiknya masalah ini diserahkan kepada kewenangan MA. Tetapi pihak Kejakgung dan para hakim pertama dan para hakim tinggi yang menghukum AT menyatakan AT  bersalah karena bukti – bukti cukup Kejaksaan Agung akan mengajukan permohonan PK kepada MA.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;            Ada “keputusan sejarah” menurut Benyamin Mangkudilaga kepada RCTI tgl 12 Februari 2004. Mantan Hakim Agung itu mengemukakan, majalah Tempo menang di PTUN dan di PTTUN. Tetapi dihukum oleh MA. Itu tahun 1996 – 1998. Tahun 1998 sejarah berkata lain. Tahun 1999 Tempo “dimenangkan” oleh sejarah. Kasus Tempo kebalikan kasus AT. Lalu kapan sejarah akan membuat keputusan lain ? Menurut Benyamin Mangkudilaga “pada Pemilu nanti”. Tentu prediksi politik ini bisa saja benar – benar terjadi jika Tuhan meridhoinya. Pemberitaan pers dan penyiaran khususnya TV  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;( yang secara teknologi sangat tajam pengaruhnya ) terus meluas membawa dampak politik putusan MA itu. Protes mahasiswa pun meningkat. Ada pembakaran keranda orang mati, ada penurunan bendera merah putih setengah tiang dan simbol – simbol komunikasi politik lainnya yang mengisyaratkan “kematian” supremasi hukum di negara ini.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;             Protes mahasiswa yang selalu bekerja saama dengan media massa, yang merupakan dua pusat keunggulan ( centre of exelence ) tak lupa pula memberitakan protes keras mahasiswa terhadap kepolisian yang dianggap melakukan kezaliman  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;( penganiayaan berat ) terhadap teman – teman mereka. Ada kejadian yang menarik dan langka. Mahasiswa menolak bantuan biaya pengobatan dari pihak kepolisian dan meminta agar uang itu digunakan untuk memperbaiki mental polisi. Yang dimaksud tentulah oknum – oknum polisi – polisi yang melakukan penganiayaan terhadap teman – teman mereka. Namun pepatah lama tak pernah usang satu yang berbuat semua kena   (&lt;i&gt;pars prototo&lt;/i&gt; )                      &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;             Bagaimanapun pers dan media massa lainnya telah turut melaksanakan fungsi informasi dan kontrol sosial dalam kasus AT atau tragedi 12 Februari ini dengan baik. Artinya, mematuhi hukum – hukum jurnalistik seperti rumus 5W + H, rumus etika berita &lt;i&gt;accurate, fair &amp;amp; true&lt;/i&gt; ( AFT ) dan teori – teori tentang &lt;i&gt;objective reporting&lt;/i&gt;, jurnalistik kemasyarakatan, &lt;i&gt;( civic journalism&lt;/i&gt; ) dan jurnalistik perdamaian ( &lt;i&gt;peace journalism&lt;/i&gt; )&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;          Dari kasus AT ini muncul gejala kesenjangan yang lebar antara opini publik dan pemerintah tentang cara – cara penegakan hukum. Di satu pihak pemerintah cenderung sangat yakin akan kejujuran lembaga peradilan termasuk dukungan atas cara – cara polisi menangani demonstrasi mahasiswa. Tetapi di pihak lain masyarakat selama ini hampir tidak pernah benar – benar yakin akan kejujuran lembaga peradilan dan sering memprotes cara – cara polisi menangani pengunjuk rasa yang sering represif. Itulah pula yang terjadi dengan  kasus AT yang dramatis ini.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;             Ketidakpercayaan masyarakat terhadap MA sudah terlanjur parah sehingga walaupun “benteng terakhir” keadilan ini berupaya berlaku adil, jujur dan professional, masyarakat tetap ragu. Kasus Akbar Tandjung kian memperparah sikap apriori masyarakat terhadap kinerja MA. Sikap apriori masyarakat itu banyak tercermin di dalam aksi – aksi demo mahasiswa dan LSM. Oleh media massa diberitakan, mahasiswa akan menggelar apa yang mereka namakan “Pengadilan Rakyat” untuk “mengadili” AT. Pada tgl 17 Februari 2004 menurut berita media massa sejumlah LSM di Yogya mengadakan demonstrasi anti Orde Baru berlokasi di Kampus UGM. LSM menilai putusan MA itu “anti reformasi”dan berbau Orde Baru. Nuansa komunikasi politik dari demo LSM ini amat menonjol jam 23.00 menggelar diskusi panel. Putusan MA itu kian lama kian berbau nuansa politik karena pihak yang kontra kian banyak tanpa memikirkan lagi aspek teknis yuridisnya. Diskusi panel yang diadakan SCTV Rabu malam tgl 18 Februari 2004 cenderung mengkritisi putusan MA itu sebagai preseden bururk, yaitu pejabat yang menerima instruksi dari atasan bebas dari tanggungjawab pidana meski ia melakukan kejahatan dan atasan yang memberikan instruksi juga tidak dikenakan tanggungjawab.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;          Berarti AT dikuasai oleh daya paksa dari luar dirinya sehingga terpaksa melakukan  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;perbuatan pidana dan menurut pasal 48 KUH Pidana ia tidak dapat dibebani tanggungjawab, orang yang mengalami paksaan demikian disebut tangan yang mengabdi &lt;i&gt;( manus ministra&lt;/i&gt; ). Sedangkan pihak memaksa yang disebut tangan yang merajai &lt;i&gt;( manus&lt;/i&gt; &lt;i&gt;domina&lt;/i&gt; ), harus bertanggungjawab menurut maksud pasal 55 ( 2 ) KUH Pidana. Logika hukumnya demikian. Dari harian ke harian kian banyak pihak yang memprotes putusan MA itu yang dianggap tidak sesuai dengan rasa keadilan masyarakat. Sementara itu, kalangan pejabat tak jemu – jemunya menyatakan, putusan MA itu “harus dihormati”. Dihormati belum tentu “disepakati”. Ihwal yang jelas tak mustahil Mahkamah Agung telah melakukan kekeliruan dalam menerima permohonan kasus AT karena para Hakim Agung yang terlibat adalah manusia biasa. Sedangkan para Hakim Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi bisa saja benar dalam menghukum AT jika para hakim pertama dan para hakim banding yang terkait mengikuti perintah suara hati nurani mereka. Masalah yang berat adalah hilangnya dengan tiba – tiba kepercayaan sebagian masyarakat terutama mahasiswa ( &lt;i&gt;centre of exellence&lt;/i&gt; ) kepada MA.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1673721413768826721-4304900956683564252?l=andimuis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andimuis.blogspot.com/feeds/4304900956683564252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1673721413768826721&amp;postID=4304900956683564252' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/4304900956683564252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/4304900956683564252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andimuis.blogspot.com/2008/04/tragedi-hukum-dan-politik-12-pebruari.html' title='Tragedi  Hukum dan Politik  12 Pebruari 2004'/><author><name>andimuis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06105756226945864269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1673721413768826721.post-2092152733820411286</id><published>2008-04-01T20:33:00.000-07:00</published><updated>2008-04-01T20:37:32.297-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mass media'/><title type='text'>SISTEM  MEDIA MASSA   NASIONAL  BUTUH  PERUBAHAN</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;A. Muis&lt;br /&gt;(menyambut  Hari Kebebasan Pers Dunia 3 Mei 2004)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"&gt;Makna &lt;i&gt;world press freedom day&lt;/i&gt;  3 Mei  adalah  imbauan  dan  peringatan kepada semua negara  agar  memiliki kepedulian yang tinggi  terhadap  kebebasan pers. Memang hanya sebatas imbauan   karena   tak   ada keseragaman pengertian tentang kebebasan media massa  di seluruh dunia . Sistem pers atau sistem media di masing-masing negara  biasanya dipengaruhi oleh sistem politik  di negara-negara itu. Sedangkan sistem politik itu sendiri berbeda-beda di masing-masing negara. Bisa pula sistem politik  sama , tetapi berbeda dalam hal  budaya komunikasi,  kebijakan  negara atas media (&lt;i&gt;media policy&lt;/i&gt;)  atau  sistem hukum media (&lt;i&gt;media law&lt;/i&gt;). .    &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"&gt;     Di Indonesia ,  misalnya, UU Pers, UU Penyiaran  dan  pasal-pasal KUH-Pidana yang mengatur  delik-delik komunikasi massa  dan pers  kini   berada pada tahap    perkembangan  yang  kurang cerah  dan  &lt;i&gt;ambiguous&lt;/i&gt;  . Di satu pihak   aspirasi kebebasan  media nasional  sangat diwarnai   semangat kebebasan dunia maya (&lt;i&gt;cyber space&lt;/i&gt;)  atau globalitas, sebuah bentuk kebebasan tanpa batas – batas negara. Kebebasan seperti itu tercermin di dalam  UU No.40 – 1999 tentang pers.  . Sedang di lain pihak,   undang – undang lain (selain UU Pers ) dan sistem  politik  nasional  yang sedang berubah  dari sistem otoriter ke demokrasi  masih  menyimpan teori &lt;i&gt;media otoriter&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;teori media pembangunan&lt;/i&gt;  yang sangat membatasi kebebasan media   secara represip (&lt;i&gt;pre - publication penalty&lt;/i&gt;)    Hal itu jelas kelihatan  dalam UU No.32 – 2002 tentang penyiaran, pasal 154 – 155, pasal 207 – 208 KUH-Pidana  dan pasal XIV-XV UU No.1 – 1946. , UU Penyiaran mengharuskan lembaga penyiaran memiliki izin siaran, padahal sudah ada  izin frekuensi (gelombang  elektro magnetik) bagi lembaga itu.    Berarti ada dua lapis izin yang tentu sangat memberatkan lembaga penyiaran. Izin penyiaran  (pasal  33)  dalam UU No.32 – 2002 tak ada bedanya dengan izin penyiaran dalam UU No.27 – 1996 yang notabene dianggap tidak sesuai dengan kebebasan pers .Atau sama saja dengan   SIT atau SIUPP dalam UU Pers Orde Baru.No.21 – 1982.. Padahal sistem politik negara ini bukan lagi sistem otoriter , melainkan sistem demokrasi atau sedang dalam proses demokratisasi.  Begitu  pula delik-delik penyebar kebencian  (pasal 154-155, 207-208 KUH-Pidana  dan pasal XIV-XV  UU No.1 – 1946  tentang berita bohong yang menimbulkan keonaran masyarakat , jelas bersifat represip karena rumusannya terlampau luas.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"&gt;       Dengan demikian sistem  hukum media nasional ternyata  semrawut.  Kesemrawutan itu   jelas kelihatan  dalam hubungan  antara UU Pers dengan UU Penyiaran dan UU Hukum Pidana.  UU  Pers menganut arti  pers yang luas, yakni mencakup media penyiaran (radio dan TV) dan film berita (&lt;i&gt;newsreels &lt;/i&gt;)   Hal itu dipertegas oleh pasal 1 ayat 1 dan 2,  dan pasal 4 ayat 2 UU Pers . Juga  diakui oleh UU Penyiaran dalam  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"&gt;Konsideran “Mengingat” ayat 8.  dan pasal 42  tentang kegiatan jurnalistik penyiaran yang diharuskan  tunduk kepada undang-undang yang berlaku (UU Pers dan KUH-&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"&gt;Pidana)  dan  kepada Kode Etik Jurnalistik   yang juga berlaku pada jurnalistik cetak.  Tetapi UU Penyiaran   justeru   bertentangan dengan UU Pers yang diakuinya sendiri.  UU Pers tidak membolehkan tindakan pemasungan  atau  pembatasan kebebasan secara represip, termasuk  perizinan dan  larangan penyiaran (pembreidelan) dan sensor. Tetapi UU Penyiaran  bukan saja membolehkan larangan penyiaran (sejenis pembreidelan),  melainkan juga mengharuskan izin penyiaran  yang ang berarti bisa disusul dengan pencabutan izin dan sejumlah bentuk tindakan sensor dalam arti luas  atau &lt;i&gt;imprimatur&lt;/i&gt; menurut terminologi Gereja Katolik dahulu (Pasal 33 yunto pasal 55  UU Penyiaran) .    Hal itu tentu saja  bertentangan dengan pasal 28F UUD-45  dan pasal 19 DUHAM 1948 yang mengharuskan pembatasan kebebasan media massa secara &lt;i&gt;post-publication penalty.&lt;/i&gt;   &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"&gt;   &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"&gt;      Ketentuan UU Pers pun berlebihan karena undang-undang ini a juga mencakup pamflet, sepanduk dan semacamnya  pahal sudah ada UU No.19 – 1998 yang mengtur saluran-saluran komunikasi publik seperti itu.   &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"&gt;        Pembentukan KPI juga tidak konstitusional   karena predikatnya sebagai lembaga negara yang  “indepeden” tidak ditemukan di dalam UUD-45. Luasnya fungsi  dan kewenangan  (kekuasaan)  yang dimilikinya pun  tak  tanggung – tanggung ,  sangat  luas. KPI tak lebih dari lembaga eksekutip  atau perpanjangan tangan &lt;i&gt;(verlengstuk&lt;/i&gt;) pemerintah yang pada hakekatnya dapat memasung  kebebasan pers   Jika diikuti beberapa model  pengaturan lembaga penyiaran di manca negara maka lembaga yang  tepat adalah semacam Dewan Penyiaran (semacam Dewan Pers) yang berfungsi sebagai &lt;i&gt;advisory body&lt;/i&gt;, bukan &lt;i&gt;regulatory body.       &lt;/i&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 100%;"&gt;       Bagaimanapun juga , perlu dilakukan pembaruan sistem hukum media nasional  bukan saja untuk memenuhi  tuntutan  konstitusi (UUD-45), melainkan juga untuk mengindahkan   peringatan  &lt;i&gt;world press freedom day &lt;/i&gt;3 Mei&lt;i&gt;..&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1673721413768826721-2092152733820411286?l=andimuis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andimuis.blogspot.com/feeds/2092152733820411286/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1673721413768826721&amp;postID=2092152733820411286' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/2092152733820411286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1673721413768826721/posts/default/2092152733820411286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andimuis.blogspot.com/2008/04/sistem-media-massa-nasional-butuh.html' title='SISTEM  MEDIA MASSA   NASIONAL  BUTUH  PERUBAHAN'/><author><name>andimuis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06105756226945864269</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
